Hikayat Dewa Kaladri

Syahdan, sebagaimana telah diceritakan banyak orang di Tatar Banten dan Kerajaan Sunda yang mulanya beribukota di Banten Girang dan kemudian pindah ke Pakuan, sejak Sanghyang sampai ribuan tahun ke belakang, waktu itu ada seorang Sanghyang yang bernama Sanghyang Sakti yang mempunyai seorang anak laki-laki. Namun rupa anak ini sangat jelek alias buruk sekali, badannya hitam dan perutnya buncit. Oleh ayahnya anak ini diturukan ke bumi, disuruh bertapa dan mengelilingi dunia. Demikianlah si anak buncit itu turun ke bumi. Kala itu ia sampai pusat kota Cipaitan, yaitu desa Cihandam yang telah lama ditinggalkan, dan ia terus bertapa di Gunung Kujang. Saat ia sedang bertapa, ia pun ditemukan oleh Daleum Sangkan sedang telentang bertapa di atas sebuah batu yang besar. Persis ketika itulah, oleh Daleum Sangkan ia dibawa pulang dan diambil sebagai anak, serta diurus dengan baik sekali dan disayangi sampai besar kira-kira teguh samping (berumur delapan atau sepuluh tahun, menurut perhitungan sekarang).

Apakah yang menjadi menjadi kesukaan anak buncit ini? Tak lain memasang bubu setiap hari. Dan lama-kelamaan istri Daleum Sangkan membenci anak buncit ini karena parasnya yang jelek hitam, perutnya makin lama makin buncit dan matanya besar membelalak. Hanya saja Nyi Sangkan tidak berani mengusirnya karena takut terhadap Daleum Sangkan. Pada suatu hari, waktu itu, Daleum Sangkan mengajak si anak buncit untuk memasang bubu di sungai, tetapi tidak diperkenankan memasangnya di tempat yang baik dan dalam, ia harus memasangnya di tempat yang jelek dan diangkat saja, agar tidak mendapat ikannya. Ketika itu Nyi Sangkan berkata: “Kalau tempat yang baik adalah untukku memasang bubu, jangan oleh kamu”. Lalu mereka masing-masing menempatkan bubunya.

Diceritakan, si anak buncit itu memasang bubunya di tempat-tempat yang telah ditunjukan oleh Nyi Sangkan, yaitu di tempat-tempat yang jelek dengan arus airnya yang deras. Sedangkan Nyi Sangkan menempatkannya di tempat-tempat yang baik dengan airnya yang tenang. Waktu keesokan harinya, saat mereka sama-sama melihat, bubunya Nyi Sangkan tidak berisi ikan sama sekali, meski dipasang di tempat yang baik. Sementara ketika bubunya si buncit diangkat, ternyata banyak ikan di dalamnya, bahkan ada seekor ikan yang besar yang disebut ikan lubang, lalu ikannya dibawalah pulang. Dengan kejadian itu, Nyi Sangkan bertambah benci terhadap anak buncit itu. Ikan yang besar tadi, tidaklah diberikan kepada Nyi Sangkan oleh anak itu, bahkan ia pelihara dan dismpan dalam tong yang terbuat dari batang pohon kawung. Nyi Sangkan menjadi sangat marah, lalu memaki-maki, tetapi si anak buncit ini tidaklah menghiraukannya.

Tak lama kemudian, Nyi Sangkan mengajak menanam talas di humanya. Tetapi seperti biasa saja, yaitu Nyi Sangkan menanam talasnya di tempat yang tanahnya bagus, sedangkan si buncit disuruh menanamnya ditempat yang jelek yang tanahnya merah bercampur pasir. Lalu mereka menanam talas. Nyi Sangkan berkata kepada anak buncit: “Wah, kamu menanam talas juga
tak akan ada umbinya, sebab tanahnya jelek, berwarna merah dan bercampur pasir pula, walau pun nantinya ada juga berumbi, paling besar juga hanya sebesar kelentitku”. “Kalau tanamanku sudah pasti bagusnya dan banyak umbinya, sebab tanahnya bagus.” Anak buncit tidak menjawab apa-apa, hanya dalam hatinya ia berkata, barangkali saja nanti umbinya banyak. Setelah lama, di saat talas mereka sudah masanya berumbi, mereka pun menengok dan mencabut talas mereka masing-masing.saat itulah, ternyata, tanaman talas Nyi Sangkan tidak ada umbinya. Sementara ketika si anak buncit mencabut talasnya, umbinya besar sekali, meski hanya sebuah, di mana besar umbinya itu sebesar tempayan tempat beras. Si anak buncit itu pun berbicara kepada Nyi Sangkan sambil memperlihatkan talasnya dengan diayun-ayunkan: “Ini lihatlah, Uwa, tanaman talasku ada umbinya sampai sebesar burut Uwa.” Setelah itu, dengan mendadak terbukti terkena oleh sapaan, alat kelamin Nyi Sangkan menjadi burut sebesar talas si anak buncit, sama dengan tempayan beras. Nyi Sangkan menjadi kalang kabut, hatinya makin marah kepada si anak buncit itu, yang karena ia terkena sapaannya si anak buncit itu menjadi burut alat kelaminnya, hingga ia susah berjalan, hampir-hampir tak dapat pulang ke rumah.

Sejak saat itu, Nyi Sangkan terus menangis, dan tentu saja, makin lama makin membenci anak buncit itu. Karena Nyi Sangkan merasa malu, maka ia pun bermaksud untuk membunuh si buncit, hanya saja, lagi-lagi, ia merasa takut oleh suaminya, Daleum Sangkan. Pada suatu waktu, di sebuah hari yang mungkin biasa, ketika si buncit sedang bepergian, ketika itulah ikan lubang kesayangan si buncit dicuri oleh Nyi Sangkan dari tong kawung, dibawa ke rumah Nyi Sangkan dan dimasak layaknya ikan, sementara kepala ikan tersebut tidak dimasaknya, melainkan dimasukkan ke dalam mangkuk dan disimpan di rak piring dengan ditutup oleh periuk. Tidak lama kemudian si buncit datang sambil membawa makanan ikan, terus ia mencari ikannya untuk diberi makan. Ketika dilihat ternyata ikannya sudah tidak ada lagi, si buncit terus menanyakan, dan berkata: “Ua, ikan saya di mana gerangan ikan kesayanganku? Jika ia tidak ada di tempatnya, sudah tentu dicuri olehmu.”

Namun, ketika si buncit tengah berbicara itu, ayam jantan tiba-tiba berkokok: “Kiplip-kiplip (suara tiruan tepukan sayap, sebelum ayam berkokok) Kongkorongok (suara kokok ayam) // Kepala lubang disembuyikan, // ditutup oleh periuk, // ditempatkan di dalam mangkuk, // disimpan di rak piring, // cepat-cepat, // segera harus dicari, // jangan percaya kepada Nyi Sangkan, // sebab dia buruk hati, // dan ia bermaksud membunuhmu.”

Setelah mendengar kokok ayam yang demikian bunyinya tersebut, maka si buncit segera mencarinya ke rak piring. Dan ketika ditengoknya, ternyata kepala lubang itu memang ada seperti dikatakan si ayam jalu yang cerdas itu, persis ditutup oleh periuk. Sejak itu si buncit tidak bicara lagi, dan ia terus melarikan diri karena marahnya dan benci yang teramat sangat kepada Nyi Sangkan. Ia pun langsung pergi ke Negara Pakuan Barat dan bertempat tinggal di sana sebagai pertapa di pegunungannya, di sekitar Gunung Halimun dan Gunung Salak.

Begitulah selanjutnya diceritakan, Raja Pakuan Barat mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Tasik Larang Raja Kembang, yang ketika itu sedang baleg kembang alias tengah beranjak dewasa dan mulai memiliki hasrat kepada lain jenis. Namun ia masih memiliki perasaan takut dalam menghadapi lain jenis kelamin, dan belum memiliki keberanian untuk bercintaan dengan seorang lelaki. Dan inilah yang disebut “baleg tampele”, sedangkan “baleg sedeng”, adalah tumbuhnya hasrat untuk bercinta dengan segala akibatnya. Ketika itu, umurnya kira-kira sudah limabelas tahun dan belum mempunyai suami alias pasangan hidup. Seperti telah dihikayatkan, dalam pelariannya karena marah dan benci terhadap Nyi Sangkan yang telah durjana kepada dirinya itu, si anak buncit itu kemudian mandi di lubuk Sipatahunan (suatu lubuk yang setiap tahun selalu banyak airnya.) Setelah selesai mandi, maka rupanya menjadi amat bersih dan tampan sekali, bercahaya bagaikan seorang raja dan pangeran ksatria yang gagah perkasa, hanya saja buncitnya belum juga hilang. Ia pun segera turun ke kota untuk meminang Putri Tasik Larang Raja Kembang yang jelita itu. Syahdan, pinangan si buncit diterima oleh Sang Raja Pakuan Barat, dan dilangsungkanlah perkawinan mereka. Putri pun menerima dengan senang hati bersuamikan si buncit, yang sejak itu berganti menjadi Prabu Anom Munding Kawangi. Maka pesta perkawinannya pun dilangsungkan dan oleh mertuanya dijadikan Prabu Anom Pakuan Barat.

Namun, pada suatu ketika, karena sudah terlalu lama berada di Pakuan Barat, Raja muda itu merasa rindu dan ingin bertemu dengan Ratu Bagus Banarudin di Parung Kujang. Maka ia mohon izin kepada mertuanya untuk pergi dengan istrinya ke Parung Kujang. Mertuanya mengizinkan, hanya saja mertuanya pun berpesan: “Jangan terlalu lama di Parung Kujang”. Tak lama kemudian, suami istri itu pergi ke Parung Kujang. Sesampainya di Parung Kujang, langsung saja menemui Ratu Bagus Banarudin, mereka diterima dengan baik seperti layaknya saudara, dan karena sudah tidak merasa canggung lagi, mereka pun makan dan minum, juga tidur di rumah Ratu Bagus Banarudin itu layaknya tinggal di rumah sendiri. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya, Ratu Bagus Banarudin ternyata mempunyai hasrat buruk, yaitu menginginkan prameswarinya Ratu Anom Pakuan Barat, si Raja Muda yang tinggal di rumahnya itu. Ketika itu, saat merasa telah tinggal cukup lama, Ratu Anom Pakuan Barat pun minta diri kepada Ratu Bagus Banarudin, dan mengemukakan maksudnya akan menjalankan bertapa lagi di Gunung Caladi. Sedangkan istrinya ia titipkan kepada Ratu Bagus Banarudin, dan berkata: “Nanti sepulang bertapa, kakakmu akan dijemput lagi, sekarang titiplah dulu, sebab tidak akan terlalu lama.” Setelah pesan dan titipan itu diterima oleh Ratu Bagus Banarudin, raja muda itu pun pergi menuju tempat pertapaan.

Dan begitulah, sebagaimana dihikayatkan, sesampainya di Gunung Caladi, ia mengganti namanya menjadi Dewa Kaladri, sebab tempat bertapanya adalah Gunung Caladi. Sementara itu, selama ia sedang bertapa, Ratu Bagus Banarudin bermain cinta alias bercinta dengan permasuri Raja Anom yang kini berganti nama Dewa Kaladri itu, dan si permaisuri kemudian dijadikan permaisurinya. Namun, ketika waktu tapanya telah mencapai 7 bulan, Dewa Kaladri meninggalkan tempat pertapaannya dan terus menjemput permasurinya yang akan dibawa pulang lagi ke Pakuan Barat. Tetapi sesampainya di Parung Kujang, dan setelah dilihatnya ternyata permaisurinya itu telah menjadi permaisuri Ratu Bagus Banarudin, ia urungkan niatnya untuk pergi ke rumah Ratu Bagus Banarudin. Ketika itu ia berdiam diri di saung huma, tidur tertelungkup, dengan perasaan heran yang bukan kepalang bahwa permaisurinya telah direbut oleh sahabat karibnya sendiri. Hanya saja ia tidak mau memarahinya, karena merasa kasihan kepada sahabat karibnya itu, bahkan ia membiarkan saja. Sementara itu, saat ia diketahui oleh pengikutnya Ratu Bagus Banarudin, Ratu Bagus Banarudin pun memerintahkan pengikutnya itu untuk menangkap dan membunuh Dewa Kaladri.

Tentu saja Dewa Kaladri terus meninggalkan tempat itu, melarikan diri menuju ke sebelah Tenggara. Dan ketika sampai di Tanjakan Cibatu, ia bertemu dengan seorang tukang penyadap aren yang bernama Ki Kondoy, yang saat itu sedang meninggur tangan-tangan aren sambil membuang ijuk dan kelopak-kelopaknya. Dewa Kaladri pun bertanya kepada Ki Kondoy: “Eh, sedang apa kau di sana?” Segera saja Ki Kondoy pun menjawab: “Saya sedang meninggur, tangan-tangan aren ini mau disadap sambil membuang ijuk dan kelopaknya”. Lalu Dewa Kaladri berkata lagi: “Coba, hari ini aku harus segera kau tolong, karena aku sedang mendapat kesusahan, yaitu sedang dikejar-kejar oleh pengikutnya Ratu Bagus Banarudin dan saya mau dibunuh. Tapi aku tidak mau melawannya, karena kasihan. Sekarang juga aku harus segera kau sembunyikan, jangan sampai aku dibunuhnya”.

Setelah ia berkata itu, Ki Kondoy pun memberinya pertolongan. Ki Kondoy pun menyimpan dirinya ke dalam Lombang Labuhan Bulan, dan ditutupi ijuk dengan kelopak aren hingga rapi sekali, sampai-sampai tak kelihatan. Tidak lama kemudian, pengikut-pengikutnya Ratu Bagus Banarudin berdatangan mencari Dewa Kaladri. Saat mereka bertemu dengan orang yang sedang menyadap, mereka pun langsung bertanya: “Hey yang sedang menyadap, apakah kau tidak melihat orang lewat ke sini?” Si penyadap yang tak lain Ki Kondoy itu pun menjawab: “Aku tidak melihatnya, sebab sejak dari pagi aku ada di sini sedang menyadap, tetapi tidak ada orang lewat ke sini”. Setelah itu, mereka kembali lagi, tidak terus mencarinya. Setelah musuhnya kembali, maka Dewa Kaladri dikeluarkan lagi oleh Ki Kondoy dari Lombang Labuhan Bulan, dan selamatlah dari marabahaya para prajurit suruhan itu.

Pada waktu itulah Dewa Kaladri berkata kepada Ki Kondoy: “Kondoy, aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu sampai aku selamat dari bahaya maut. Kini aku mendo’akanmu agar kau menjadi kaya raya dari hasil pekerjaan yang sehari-hari kau kerjakan, yaitu menyadap aren. Hanya aku titip, di kelak kemudian hari, anak cucumu janganlah coba-coba kawin dengan keturunan Ratu Bagus Banarudin di Parung Kujang dan dengan keturunan Daleum Sangkan di Cihandam. Inilah yang harus dijadikan tabu olehmu karena Ratu Bagus Banarudin sudah memperlihatkan kerendahan budinya padaku. Begitu pula istri Daleum Sangkan telah menyakitkan hatiku, dan anak cucu keturunannya, telah aku sapa, perempuannya menjadi burut kemaluannya. Jika kamu berani melanggar larangan ini, kamu akan mendapat kecelakaan, tidak menemui kebahagiaan, akan tetapi jika kamu mentaatinya, niscaya kamu mendapat kebahagiaan, tidak akan mengalami kekurangan apa-apa. Nah, begitulah nasihatku, camkan dan perhatikan baik-baik. Kini aku tak akan lama di sini, aku bermaksud menuju Parakan Dangong”. Ki Kondoy menerima segala nasihat dan pepatah dari Dewa Kaladri itu, dan selamanya dijalankan dengan baik, serta disampaikan pula pada anak-cucunya.

Atas kepatuhannya pada nasihat-nasihat tadi, maka keturunan Aki Kondoy tidak mengalami kekurangan sandang-pangan. Setelah member nasihat kepada Ki Kondoy itu, Dewa Kaladri pun pergi dan menghilang tanpa ada yang mengetahui kemana arah tujuannya. Syhdan, seperti dihikayatkan, Dewa Kaladri muncul di Cimasuk. Di sini banyak terdapat rumah-rumah dan orang-orangnya hidup berkecukupan. Dan pada suatu ketika ia melihat seorang perempuan yang sedang mengangkat nasi. Maka Dewa Kaladri pura-pura kelaparan ingin mencoba perempuan tadi, dan meminta nasinya, dan berkata: “Saya minta makan.”. Namun perempuan itu tidak memberinya karena takut tidak akan cukup untuk makan keluarganya, dan si perempuan itu menjawab: “Tidak ada makanan, yang ada hanya wedang”. Demi mendenga jawaban demikian itu, dan di saat yang sama ia ingin menghindar pertanyaan-pertanyaan lainnya, Dewa Kaladri pun berkata: “Biar saja bila tidak ada, aku pun tidak memaksa tetapi bila diberi wedang pun aku mau menerimanya”. Bersamaan dengan Dewa Kaladri berkata demikian itu, maka nasi yang ditanak tadi menjadi wedang. Perempuan itu berdiam diri saja, tidak bicara, terkesima, dan terkujut-kaget melihat nasi sudah menjadi wedang.

Saat itulah Dewa Kaladri berkata: “Nah kalau orang suka berdusta maka beginilah kejadiannya. Kini kau menyapamu, karena kau telah mendustai kau sendiri, maka keturunanmu di Cimasuk, tidak akan berkecukupan kehidupannya dari hasil Sri (Padi).” Setelah berkata itulah, tak lama kemudian, Dewa Kaladri menghilang, tidak tahu kemana perginya. (*)

Next Page »