Songs of Season

Just another WordPress.com weblog

Kwatrin Untuk Bocah Pemulung

Mungkin nasib memang seperti gerimis selepas magrib
merintik pada semungil topi, dan kau pun berlalu
menggendong bayang-bayang malam di punggungmu,
dan kau pun memang sengaja tak memungut langkahmu.

Bukankah kau dan aku pernah saling menyapa
dengan serak yang sama, mengeluh tentang sudut kota
yang sama. Meski di ruang itu, esok hari, orang-orang
akan kembali mengganti angka-angka di meja mereka

–esok yang entah kenapa tak pernah belajar
dari penderitaan, dari langkah-langkah teguhmu
yang dilupakan dan disia-siakan oleh barisan nama
yang bisu dalam senyum palsu mereka sepanjang trotoar.

Tapi memang selalu kau gendong nasib
yang seperti gerimis merintik pada semungil topi
–entah dengan pedih atau tak mengerti,
entah karena memang hidup selemah tangan dan jemari.

–Sulaiman Djaya, 2009–

December 14, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Kwatrin Desember

Jikasaja tanganku adalah waktu, niscaya kusentuh
serekah lembutmu, layaknya angin Desember menghembus
pelupukmu. Kau seumpama sekembang jalang yang tumbuh
di pematang, dengan rimbun derai lagu dan rindu –mautmu

yang urung. Sementara aku, membayangkan diri
semusim asing menyapa, jarak yang bergegas menghampirimu
kala duduk di beranda, mengenangkan betapa singkat
ciuman lelaki yang tak pernah puas, dan seorang perempuan

haus dalam dahaga airmata. Cinta ini kukisahkan,
gigil ini kau kabarkan dengan tergesa, seperti semekar doa
yang tak lagi sakral. Dan sadar kita pun tak tengah menanti
sesiapa –hanya redup serayu sahut nun menjauh.

Setelah itu tersibaklah hidup, hidup yang entah kenapa
membuatmu takut, seperti subuhku yang berlalu
bersama tidurku. Bersama Desember yang tiba-tiba saja
merabun merah suaramu kalaku tertegun, cintaku.

–Sulaiman Djaya, 2009–

December 9, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Memoir of Midnight

Tentu semuanya seperti biasa, kulepas dan kukenakan hari-hariku dan malam-malamku, layaknya kupakai dan kutanggalkan sepatu dan bajuku. Meski aku tak bisa memisahkan bayanganku dari diriku. Ia dan diriku seperti maut dan hidup yang bersekutu diam-diam tanpa sepengetahuan dan ijinku.

Kau tahu, perempuanku, sebuah sajak adalah sekian ganti kegagapan seorang lelaki yang terlanjur bersahabat dengan sepi dan baris-baris igau di kertas-kertas putih. Tentu saja aku tak setia dengan setiap yang dikatakan orang-orang.

Kuhisap batang-batang tembakauku, kuhembuskan asapnya ke arah gelap, di mana daun-daun yang tampak samar segera kubayangkan layaknya malam yang tenggelam di segelas kopi hitamku yang panas dan pekat. Sehitam matamu yang entah kenapa selalu menggodaku untuk menyelaminya lebih dalam dan dalam.

Dan jangan kau kira aku tak sempat memikirkanmu layaknya seorang filsuf yang setengah mati menyusun argumentasi untuk sekian aksioma yang dapat membuatnya gila, yang mungkin juga malah membuatnya lupa mengganti celana dalamnya.

Demikianlah aku tak pernah bisa, untuk sekedar membedakan antara berpikir dan lupa, antara ilusi keindahan dan kenyataan yang membuat mataku gusar dan bimbang. Tapi bukan berarti aku tak lagi memiliki kelembutan untuk memeluk dan menciumi seseorang yang ada di hatimu di saatku gamang.

–2009–

November 29, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Kotak Cinta Bulan April

Kotak cinta bulan April ini kutemukan dalam keadaan tertutup rapat,

bukalah hati-hati, kekasihku, di dalamnya ada sepotong kertas

dan jejak jari-jemariku yang tertinggal ketika kau tak mau pulang

saat aku menemukanmu tengah menyimak seuntai lagu

tentang sebuah kenangan yang meninggalkanmu

bersama angin tenggara. Rabalah dengan mesra

dan terkalah beberapa menit sebelum kau membukanya,

di kedalamannya ada burung-burung bernyanyi

dan sebatang sungai damai terbaring.

Dulu, dulu sekali, ketika kau dan aku adalah sepasang daun

yang tak saling menyapa di setangkai ranting senja hari,

kita hanya tahu gemulai gerak-gerak tak terduga.

Aku menatapmu yang jelita dan kau mengagumi

dan memandangku keheranan, kau memeluk

dan mendekapku di kehampaan udara, dan aku

terpedaya kata-kata yang kau hembuskan

ke arah firdaus merah kehijauan nun di sana. “Aku datang,

aku datang kekasihku, setelah janji dan pengingkaran

mendapatkan aroma purbanya”.

Betapa lembut kau menyentuhku dan betapa musim

seakan tak pernah berganti di relung-relungnya. Begitulah

seorang malaikat pun tergoda meninggalkan surga

demi sebuah dunia tempat kita tertawa dan riang bercanda,

tempat kita melupakan bujuk-rayu maut, manakala kau dan aku

tercenung memikirkan seputih lembut cahaya di wajahmu nun lugu.

Rabalah dan bukalah, kekasihku, di dalamnya aku setia selalu

mendedah tubuh dan rimaku, di kedalamannya aku kekal

dan tak kenal lagi wajahku”.

—2009–

November 28, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Februari Matsnawi –Sebuah Rhapsodi

Hening yang menggembala, hening yang telah meninggalkan sandal-sandal malam, sudah saatnya kususun sendiri doa-doa yang menemaniku dalam getar. Gelapku kental, hitamku panas sepanas gairah cinta, rinduku sedingin subuh mengembara. Seperti biasanya, aku masih setia pada sebisu-senyap dinding ini, meski pada akhirnya terlelap juga di atas lembar bait-bait larik. Seperti biasanya, aku mengiya dan menolak kebebasanku, tenang dan gelisah mencumbui sedamai jingga Februari-mu.

Sudah saatnya aku melafalkan doa seperti saat kukagumi indah sepasang kaki dan tangan, pada sediam senyuman dan tenang seraut wajah pemetik malam. Sudah saatnya kukagumi setiap gerak dan gemulai seperti biasanya, samar nyanyian dan ngiang kerinduan sealun biola lelaki kesepian. Akulah pengembara malam dengan seremang jiwa tak bersayap, menolak singgah di antara kerlap-kerlip tebaran cahaya kunang-kunang, selalu menyalakan tungku-tungku musim hujan.

Hening yang seakan tertunduk menanti, hening yang seperti seorang ibu yang menangis-sepi dan terluka, sudah saatnya aku beranjak dari mimpi-mimpi tidurku bersama orang-oran yang tergesa dan pergi, yang bimbang dan tak sanggup memetik setanggi. Telah lama kita tak saling bertukar gundah, telah lama aku menutup jendela-jendela Februari-mu yang ungu. Seperti biasanya, jelagaku tak juga mau padam, seperti indah sepasang mata perempuan.

–2009–

November 26, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Belajar Arsitektur Sebuah Nyanyian

Misalnya kugambar dirimu dalam sketsa yang kubuat, cintaku,
niscaya akan kuandaikan kau sebagai perempuan dengan rambut berwarna pink mengkilat, seorang perempuan bertubuh langsing yang tengah membuatkan secangkir kopi untuk seorang lelaki yang selalu gagal menuliskan sajak cinta untuk seseorang
yang terlampau nyata sekaligus hanya ada dalam sebuah sketsa.

Kala itu aku duduk ke arah malam, dan kau datang dengan langkah yang pasti dan pelan, langkah-langkah lembut sepasang kaki ramping di saat rambutmu masih kuyup dan lembab, di saat kau pun puas dengan sebuah pintu dan jendela yang biasa saja, di saat apa yang kita sebut cinta ternyata cuma soal bagaimana kau dan aku bertukar dan berbagi malam, sisanya kau dan aku mencari sendiri.

Misalkan kususun sketsa itu empat ruang dikalikan sepasang dua: dua ruang pertama untuk sebuah cinta dan hasrat untuk tak setia yang sulit dijelaskan dengan psikologi masa kini. Dua ruang kedua untuk kesedihan dan kegembiraan agar tak berebut kesempatan bila mendapatkan giliran yang sama. Dan dua sepasang lainnya hanya berisi sejumlah tangga tempat kau dan aku menemu-hilang.

Kala itu kau dan aku saling menitip mimpi dan aku terbaring
mendengarkan getar sepasang bibir, merenungi dengan sangsi
kata-kata yang kau ucapkan dan pelan kau pilih dengan hati-hati. Dan jika pun kau bosan dengan sketsa yang telah kubuat, aku masih memiliki sekian angan-angan yang kususun dan kuciptakan dari sejumlah pengecualian, penolakan, dan kebebasan seorang bocah.

–Sulaiman Djaya, 2009–

November 24, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | 1 Comment

Serafim Januari

Selengang lorong-lorong surga
kau hamparkan jubah-jubah waktu
dengan putih lembut jemari
yang melahirkanku,
seiring daun-daun
mendendang riangmu.
Tapi siapa yang tahu
arah angin
yang tak tentu,
bagai warna-warni
yang terurai. Karena itu
bukalah pintu hatimu
dan nyanyikanlah partita lagumu
bersama tangan-tangan Januari
yang mendenting-denting
simfoni rahim sunyi.

(Sumber: Majalah Sastra Horison, Agustus 2009).

November 23, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Nyanyi Cahaya

Pulas dan bersahaja semua yang tertidur dan terjaga
di pelukmu, yang riang dan yang murung,
yang tegak dan yang tertunduk. Tangkas dan pelan
gaib kepakan pada tubuh yang kau bakar,
segaib rambatan jari-jemarimu menelanjangi segala,
selihai tangan-tanganmu memutih dan menguning
sunyi, segaib langkah-langkahmu ke ujung tersunyi
batas langit sepiku sendiri menerka nyanyi
dan komposisi, ketika warna-warni terhampar
di hening yang tak mampu kusinggahi
meski sedetik, bagai denting hati
jiwa-jiwa yang terluka dan teratwa di antara lelap
bintang-bintang yang selamanya diam,
tetapi lebih tertidur lagi jiwa-jiwa
yang mengucur keringat kala siang
bersama segala angan yang menari dalam mimpi
di deras tangis orang-orang yang memasi
dinding-dinding sunyi, sehening ziarahmu
menyentuhi yang pasi dan yang rekah, yang sayu
dan yang nyalang memandang, mungkin tak ada
yang lebih jernih ketimbang kebisuan yang mewarna
wajahmu, sesuci kelamin dan sesunyi rahim
tempat kata-kata kau lahirkan. Aku kini dan aku akan
bersekutu denganmu di jazirah kebadiaan, ketika wajah
dan bayang-bayang, terbaring dan meresap
di tanah coklat kehitaman.

(Sumber: Majalah Sastra Horison, Agustus 2009).

November 23, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

Nyanyi Musim

Seolah kudengar langkah-langkahmu sayup
bergerak, seiring gugurnya ranting-ranting
bagai renungku sendiri yang berjatuhan.
Dan pelan-pelan kuning yang memutih
meresap ke tanah lembab dari wajahmu
bagai senyap kalbu mendekapi sunyi ini.

Nanti pada malam kan kudengar lagu riang,
menyusun nada-nadamu yang berdendang.
Selirih abadimu bernyanyi di diam benakku,
saat kau bangunkan wajah-wajah tertidur
di kuncup matamu itu, bagai nyala jejak
yang seanggun kiasmu menenun jiwa-jiwa.

(Sumber: Majalah Sastra Horison, Mei 2009).

November 23, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet

May Seraphim

Bila nyata dirimu
sang penggubah
yang setia,
mainkanlah partita
angin fajar hari
sudut-sudut Mei,
agar kuresapi gaib jemari
mendenting-denting sepi.
Sebab ini diri
ditakdir sangsi selalu.
Ataukah engkau cemburu
pada laraku,
atau bila engkau pun
bersembunyi,
takkah dirimu
ingin menari?
Selincah gemulai
awan langit hening
mengungkai pedih
nasib puisi.
Dan Tuhan, Tuhan,
bila dawai-dawai sunyi
di seruang hati
yang mungkin
tak lagi kumiliki,
akankah untai rinduku
bagai selengang nyeri
rahim sang waktu?
Menua dan letih
bait-bait ini,
atau sekali saja
leraikanlah, leraikanlah
sudut-sudut pagi
yang kupandangi
dan menarilah
setangkas elang
mengambang luas
dan terbentang
di awang-awang.

(Sumber: Majalah Sastra Horison, Mei 2009).

November 23, 2009 Posted by Sulaiman Djaya | Uncategorized | | No Comments Yet