Malam yang Kubaca adalah Malam yang Mengingin Lagumu

November 12, 2009

Bukan gelap yang membuatku takut, Dik, sebab sekalipun temanku yang paling setia adalah lembab dinding dan dentang jam, aku masih bisa istirahat dan meletakkan penaku,
juga kertas-kertasku, bila telah tiba waktuku merapikan buku-bukuku, dan membaca apa
yang tak dituliskan reranting malam dan desau kerinduannya pada angin dan meja tempatku tertunduk dan menatap dari kedalaman mata.

Jika memang ada kesedihan dan keheningan yang menginginkan sejumlah nama, biarlah kau renungkan sejenak sebelum kau menggubahnya ke dalam lagu, dan biarkan malam yang menyempurnakan bait-baitmu yang tertunda dengan caranya, hingga kau cukup menggumamkannya saja.

Kau pun tahu, telah kuakrabi sekian hujan dan khayalannya yang resah dan tak sempat kulukis di kanvas-kanvas malam dengan sekuas merah-membara, hitam-melebam sehitam rambutmu yang terurai di antara lembab dan pantun cinta yang kumantrakan dari kejauhan.

Bukan rambutmu atau caramu berbicara yang kubaca, tetapi sesuatu yang ada di baliknya, sesuatu yang membuatmu selalu bertahan dengan remang dan kata, sesuatu yang kadang mengelak dan meminta, kadang tak mengingin apa-apa.

–Sulaiman Djaya, 2009–


Ketika Batas Tak Lagi Menggoda, Esei Tentang Persahabatan 1

November 12, 2009

Seseorang yang waktu-waktu kesehariannya lebih banyak dijalani dalam keadaan sepi dan sendiri adalah juga seseorang yang sangat membutuhkan persahabatan, yang dengan itu ia bisa berbagi dan bertukar pendapat dengan sahabatnya. Kebutuhan tersebut terasa kuat dalam diri saya, dan saya pun tidak membayangkan sebelumnya bahwa saya saat ini adalah seseorang yang tak lagi memandang penting perbedaan agama dan kebangsaan dengan siapa saya membangun komunikasi dan pergaulan, mengingat di masa remaja saya yang didoktrin dengan kuat tentang arti khusus agama saya dibandingkan dengan agama-agama lain dengan segala macam klaim kebenaran eksclusif dan doktrin kekafiran untuk orang-orang yang agamanya berbeda dengan saya.

Doktrin dan kepercayaan itu pada akhirnya luntur dan runtuh juga secara pelan-pelan karena pada kenyataannya doktrin dan kepercayaan tersebut hanya bisa membatasi hasrat saya untuk mengakrabi kehidupan dan keseharian itu sendiri, yang di saat ini semakin terbukti untuk saya bahwa orang-orang yang berbeda agama dan kebangsaan yang saya maksudkan justru telah memberi saya banyak informasi dan pengetahuan. Tentu saja tidak serta merta saya melepaskan kepercayaan pribadi saya, hanya saja kepecayaan yang sifatnya pribadi itu tak mesti membuat saya tidak menghargai dan menghormati kepercayaan orang lain yang bersifat pribadi pula. Bukankah teman-teman saya yang berbeda ideologi keagamaan, bahkan yang atheis, juga tak merasa terbebani dengan identitas keislaman saya.

Persahabatan yang merupakan kebutuhan bathin tersebut dengan sendirinya telah mengatasi perbedaan agama dan kebangsaan, membuat saya semakin kaya dan mengakrabi setiap orang dalam keadaan tulus dan tanpa beban. Persahabatan menjadi sedemikian dibutuhkan dan tak terhindarkan oleh saya karena saya tidak ingin kesepian, dan menurut saya hal ini berlaku juga untuk semua orang, bahkan orang-orang yang sangat soliter sekalipun adalah juga orang yang sangat membutuhkan seorang teman. Dalam ideal romantis saya, akan semakin terasa indah dan lengkap bila seorang perempuan dapat menjadi teman sekaligus pasangan hidup, hingga mampu mengisi dan melengkapi moment-moment dan kondisi-kondisi keseharian satu sama lain secara bersama.

Itu semua karena komunikasi, pertukaran, dan perbincangan dengan seorang teman semakin menguatkan kepekaan saya sendiri. Kesepian dan kesendirian telah membuat saya semakin membutuhkan perhatian dan kedekatan dengan seorang teman, seseorang yang bisa membuat saya tak lagi menganggap saya sendirian dan sepi. Seseorang yang juga bisa bersikap terbuka dan berbagi pengalaman dan pengetahuannya kepada saya, singkatnya seseorang yang memang mencintai saya dengan apa yang saya sukai, apa yang saya kerjakan, dalam keadaan lemah dan cacat, tidak lengkap. Sebab dalam banyak hal saya merasa sebagai seorang lelaki yang sangat rapuh dan kadang menangis sendirian.

Dalam keadaan seperti itu, saya tak menduga sebelumnya saya mendapatkan respon yang intim dari teman-teman lintas negara saya melalui facebook. Teman-teman yang mewakili semua benua di bumi ini, mulai dari Eropa, Asia, Australia, Eropa dan yang lainnya. Mungkin akan lebih terasa intim dan hidup bila saja komunikasi dan pertukaran yang saya maksudkan tak hanya melalui media perantara tekhnologi, tetapi dengan bertatap muka dan bertemu langsung, saling menatap, mendengarkan,dan berbincang tentang apa saja. Di mana dalam situasi dan moment tersebut kita saling memperkaya diri secara bathin dan kognitif, saling melengkapi satu sama lain.

Tetapi di sisi lain, tentu tak bisa dipungkiri bahwa persahabatan adalah juga perjuangan kita untuk mengupayakan perdamaian dan saling pengertian…..

—Bersambung, Sulaiman Djaya


Diorama November

November 11, 2009

–Karakter, Suara, dan Personalitas–

Apa yang saya dapatkan ketika membaca karya-karya para penulis yang memiliki kekhasan suara dan kepribadian yang kuat dan unik dalam tulisan-tulisan mereka adalah saya seolah tengah berbincang dengan penulisnya itu sendiri di saat saya mengikuti jalan pikir dan ekspresi-ekspresi tulisan-tulisan mereka. Tulisan-tulisan mereka yang personal itu seringkali lebih merupakan campuran antara gagasan dan perasaan pribadi mereka, yang justru semakin membuat karya-karya mereka terasa hidup ketika saya membacanya. Sebut saja Voltaire dan Montaigne untuk menyebut dua contoh penulis dari sekian banyak penulis yang menurut saya setia dan menghidupi kebebasan kreatif mereka, terkadang tak peduli batasan dan menghancurkan wawasan lama, bahkan meragukan dengan berani paradigma ilmu pengetahuan yang sedang berlaku dan dianggap benar.

Karya-karya para filsuf dan penyair, atau bakat keduanya dalam seseorang, memang bisa disebut bukan ilmu, tetapi tulisan-tulisan mereka mampu membuka wawasan baru kepada para pembacanya, bahkan yang seringkali tak dipikirkan oleh kebanyakan orang sebelumnya. Holderlin, Nietzsche, dan Heidegger dapatlah disebut sebagai individu-individu yang memiliki kualitas pemikir dan penyair sekaligus. Karya-karya mereka malah melahirkan cara pandang dan paradigma baru bagi ilmu pengetahuan? Itu karena wawasan dan imajinasi seringkali menjadi rahim bagi penemuan-penemuan baru seperti telah ditunjukkan oleh seorang Da Vinci, Newton, Einstein, Von Newman, Heisenberg, yang malah mendapatkan inspirasinya dari hal-hal remeh keseharian yang diabaikan kebanyakan orang.

–Ilmu dan Imajinasi–

Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi. Wawasan itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas. Sedikit banyaknya estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran. Semangat estetika adalah keraguan dalam prosesnya, di mana keakraban dan simpati dimungkinkan.

Ikhtiar seorang penulis, pemikir, dan penyair adalah untuk menemukan dan mencari peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelahi sebelumnya tersebut.

Seorang penulis, yang sekaligus seorang pemikir, dapat dibayangkan sebagai seorang usiran yang mencari tempat berteduh dan bernaung, yang di waktu senja ia tiba-tiba sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia kesepian sekaligus ingin memasuki ruangan yang sepi dan menjelang gelap itu. Di sana ia sendirian dan tak menemukan apa-apa selain kehampaan dan kesunyian. Tetapi di sana pula ia tiba-tiba menjadi sedemikian intim dan sadar dengan keberadaan dirinya yang malang sekaligus bahagia itu. Orang itu mungkin Gao, Kierkegaard, dan Nietzsche di sebuah jaman, Kafka dan Dostojevsky di jaman yang lain.

Kita tak pernah tahu dengan tepat apa yang akan dan telah dilakukannya di sana selain sekian kebetulan yang disengaja dan tak disengaja. Di ruangan sepi yang tanpa pemilik itulah ia tertunduk, menengadah, dan sesekali bersandar. Si perokok berat dan penggila kopi seperti Voltaire, bila ia lelaki, dan si perenung yang penuh dengan perasaan natural bila ia seorang perempuan semisal Anna Akhmatova, Forugh Farrokhzad, atau pun Virginia Woolf.

Ia juga dapat dibayangkan sebagai seseorang yang menciptakan ruang pribadinya dengan begitu nyaman dan mewah, atau ia melakukannya dalam keadaan terpaksa, pelarian yang tak terhindarkan ketika ia tak memiliki kesempatan yang pertama. Ketika ada seorang penulis yang proses kreatifnya dalam penderitaan dan keterbatasan di sebuah jaman, tetapi ada seorang penulis yang begitu nyaman secara finansial di sebuah jaman yang lainnya. Dan karena perbedaan kondisi dan keadaan itulah, ruang mereka masing-masing akan memungkinkan pemaknaan yang berbeda pula.

–Sulaiman Djaya 2009–


Spring and All Its Flowers

November 10, 2009

Spring and all its flowers
now joyously break their vow of silence.
It is time for celebration, not for lying low;
You too – weed out those roots of sadness from your heart.

The Sabaa wind arrives;
and in deep resonance, the flower
passionately rips open its garments,
thrusting itself from itself.

The Way of Truth, learn from the clarity of water,
Learn freedom from the spreading grass.

Pay close attention to the artistry of the Sabaa wind,
that wafts in pollen from afar,
And ripples the beautiful tresses
of the fields of hyacinth flowers.

From the privacy of the harem, the virgin bud slips out,
revealing herself under the morning star,
branding your heart and your faith
with beauty.

And frenzied bulbul flies madly out of the House of Sadness
to unite with the flowers;
its love-crazed cry like a thousand-trumpet blast.

Hafez says, and the experienced old ones concur:

All you really need
is to tell those Stories
of the Fair Ones and the Goblet of Wine.

–Hafiz of Shiraz


Akulah Kebebasan, Cintaku

November 10, 2009

Setiap hari, setiap siang dan malam, cintaku yang biru dan ungu, setiap kali pagi sibuk dengan gerak dan langkahnya, setiap kali gelap mengirimkan getarnya ke tempat di mana kau berada, setiap kali itu pula aku menyusuri rumah-rumah dan gang-gang kota, di antara lampu-lampu dan trotoar yang tak mengenal namaku.

Kau pun mungkin akan mengira hari-hariku yang lelah, malam-malamku yang tabah, seperti juga sepasang kaki dan pundakku, adalah sebuah takdir hidup, tapi aku tak menganggapnya demikian. Dan kau pun mungkin bertanya adakah aku bahagia ataukah menyesal? Aku tak merasa demikian, cintaku yang biru.

Aku pun telah begitu akrab dengan panas dan hujan, dengan lelah dan sebuah doa yang tak pernah kulafadzkan. Seperti kau yang telah akrab dengan semua yang kau sayang sepenuh perhatian, aku pun demikian, melangkahkan sepasang kaki dan tubuhku di jalan-jalan yang segera melupakan keberadaanku yang yakin dan rindu.

–Sulaiman Djaya, 2005–


Hujan Yang Hanya Ada dalam Puisi

November 8, 2009

Hujan November yang sedih, hujan yang hanya ada dalam puisi,
hujan yang malu-malu seperti dalam film-film romantis,
adalah hujan yang menangis seperti seorang lelaki putus-asa
memikirkan susunan angka untuk sebuah sajak yang ditulisnya.
Adalah hujan yang kadang diam saja di depan halaman rumahmu,
kadang pergi begitu saja dalam keadaan telanjang dan ragu.

Adalah hujan yang mengagumi
keindahan sepasang matamu saat kau bingung,
bimbang dan berpikir sepertiku, hujan yang tak peduli
meski malam telah begitu sepi dan larut, dan kau pun begitu,
menimbang-nimbang dan menghitung apa yang kau ingini.
Dan aku pun begitu, seperti hujan yang hanya ada dalam puisi.

–Sulaiman Djaya, 2009–


Human Applause

November 8, 2009

Isn’t my heart holy, more full of life’s beauty,
since I fell in love? Why did you like me more
when I was prouder and wilder, more full
of words, yet emptier?

Well, the crowd likes whatever sells in the
marketplace; and no one but a slave
appreciates violent men. Only those who
are themselves godlike believe in the gods.

–Friedrich Holderlin, transl. James Mitchel


I Will Greet The Sun Again

November 7, 2009

I will greet the sun again;
I will greet the streams which flowed in me;
I will greet the clouds which were
my lengthy thoughts;
I will greet the painful growth of poplars
Which pass through the dry seasons;
I will greet the flocks of crows
Which brought me, as presents,
The sweet smells of the fields at night;
I will greet my mother who lived in the mirror
And was the image of my old age;
And I will also greet the earth whose burning womb
Is filled with, green seeds by the passion she has
for reproducing me.

I will come, I will come,
I will come with my hair,
As the continuation of the smells of the soil;
With my eyes, as the dense experiences of darkness,
Carrying the bushes I have picked in the woodlands
beyond the wall.

I will come, I will come,
I will come and the entrance will be filled with love;
And at the entrance I will greet again
those who are in love,
And also the girl who is still standing
At the entrance in diffusion of love.

–Forugh Farrokhzad ( 1933 – 1967 )


A Ring To Me Is Bondage

November 7, 2009

I do not think of prayer-mats,

But I do think of a hundred roads

Which pass through a hundred gardens

full of silk-tassel trees;

I know the Kibla; (1)

It has its place where happiness is;

And I say daily prayers

On the Silk Roads,

With the music of sparrows.

I do not know what Affection means,

Or what can be the difference

between one land and the other.

Aloneness is what I call Happiness

And desert is what I call Home,

And whatever makes me sad I call Love.

To me a five-pound note means Wealth;

I describe anyone who picks a flower

as Blind;

And in my eyes a net,

that separates the fish from water,

is a Murderer.

I look at the sea with envy

And say to myself:

“How small you are!”

Perhaps the sea

Also feels the same

When it joins the ocean!

I do not know what is Night,

But Day is what I understand well.

To me a flower-bush is a Village

And a short walk in the gardens

of memories, Freedom,

And any meaningless smile, Joy.

To me anybody who has a cage

in his possession

is a Gaoler;

And I see any thought

that may remain useless in my mind,

as a Wall;

To me a ring is Bondage.

I do not think of prayer-mats,

But I do think of a hundred roads

Which pass through a hundred gardens

full of silk-tassel trees.

–Mina Asadi


On the Massacre of Children

November 7, 2009

A.

Small children locked eyes to eyes

and spoke to one another, and another to one

in the silent, noisy language of death.

I couldn’t understand a thing—

children of tender years

and more tender deaths.

So said the poet:

neither Hebrew nor Arabic,

nor any other language—

slaughtered children have no tongues

as the heavens will bear witness.

And it seemed that they spoke

and I could not understand,

children of tender years

and more tender deaths.

So said the poet:

God in Heaven

who understands doubly

all things You made in Your wisdom—

Your wisdom is beyond me.

I do not accuse you.

B.

And for a moment the things

that must not be forgotten

are forgotten:

man has reason,

animal has a brain,

but I am not sure

for whom it would be easier

when the poet exposes

the cruel secret of death.

Death here, death there—

a boy here, a girl there—

torn in their lives and in their deaths.

This is the crying that has not begun;

this is the crying that has no end.

–Naim Araidi, transl. Karen Alkalay-Gut