–Karakter, Suara, dan Personalitas–
Apa yang saya dapatkan ketika membaca karya-karya para penulis yang memiliki kekhasan suara dan kepribadian yang kuat dan unik dalam tulisan-tulisan mereka adalah saya seolah tengah berbincang dengan penulisnya itu sendiri di saat saya mengikuti jalan pikir dan ekspresi-ekspresi tulisan-tulisan mereka. Tulisan-tulisan mereka yang personal itu seringkali lebih merupakan campuran antara gagasan dan perasaan pribadi mereka, yang justru semakin membuat karya-karya mereka terasa hidup ketika saya membacanya. Sebut saja Voltaire dan Montaigne untuk menyebut dua contoh penulis dari sekian banyak penulis yang menurut saya setia dan menghidupi kebebasan kreatif mereka, terkadang tak peduli batasan dan menghancurkan wawasan lama, bahkan meragukan dengan berani paradigma ilmu pengetahuan yang sedang berlaku dan dianggap benar.
Karya-karya para filsuf dan penyair, atau bakat keduanya dalam seseorang, memang bisa disebut bukan ilmu, tetapi tulisan-tulisan mereka mampu membuka wawasan baru kepada para pembacanya, bahkan yang seringkali tak dipikirkan oleh kebanyakan orang sebelumnya. Holderlin, Nietzsche, dan Heidegger dapatlah disebut sebagai individu-individu yang memiliki kualitas pemikir dan penyair sekaligus. Karya-karya mereka malah melahirkan cara pandang dan paradigma baru bagi ilmu pengetahuan? Itu karena wawasan dan imajinasi seringkali menjadi rahim bagi penemuan-penemuan baru seperti telah ditunjukkan oleh seorang Da Vinci, Newton, Einstein, Von Newman, Heisenberg, yang malah mendapatkan inspirasinya dari hal-hal remeh keseharian yang diabaikan kebanyakan orang.
–Ilmu dan Imajinasi–
Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi. Wawasan itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas. Sedikit banyaknya estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran. Semangat estetika adalah keraguan dalam prosesnya, di mana keakraban dan simpati dimungkinkan.
Ikhtiar seorang penulis, pemikir, dan penyair adalah untuk menemukan dan mencari peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelahi sebelumnya tersebut.
Seorang penulis, yang sekaligus seorang pemikir, dapat dibayangkan sebagai seorang usiran yang mencari tempat berteduh dan bernaung, yang di waktu senja ia tiba-tiba sampai di sebuah ruangan yang pintunya terbuka. Ia kesepian sekaligus ingin memasuki ruangan yang sepi dan menjelang gelap itu. Di sana ia sendirian dan tak menemukan apa-apa selain kehampaan dan kesunyian. Tetapi di sana pula ia tiba-tiba menjadi sedemikian intim dan sadar dengan keberadaan dirinya yang malang sekaligus bahagia itu. Orang itu mungkin Gao, Kierkegaard, dan Nietzsche di sebuah jaman, Kafka dan Dostojevsky di jaman yang lain.
Kita tak pernah tahu dengan tepat apa yang akan dan telah dilakukannya di sana selain sekian kebetulan yang disengaja dan tak disengaja. Di ruangan sepi yang tanpa pemilik itulah ia tertunduk, menengadah, dan sesekali bersandar. Si perokok berat dan penggila kopi seperti Voltaire, bila ia lelaki, dan si perenung yang penuh dengan perasaan natural bila ia seorang perempuan semisal Anna Akhmatova, Forugh Farrokhzad, atau pun Virginia Woolf.
Ia juga dapat dibayangkan sebagai seseorang yang menciptakan ruang pribadinya dengan begitu nyaman dan mewah, atau ia melakukannya dalam keadaan terpaksa, pelarian yang tak terhindarkan ketika ia tak memiliki kesempatan yang pertama. Ketika ada seorang penulis yang proses kreatifnya dalam penderitaan dan keterbatasan di sebuah jaman, tetapi ada seorang penulis yang begitu nyaman secara finansial di sebuah jaman yang lainnya. Dan karena perbedaan kondisi dan keadaan itulah, ruang mereka masing-masing akan memungkinkan pemaknaan yang berbeda pula.
–Sulaiman Djaya 2009–