<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SULAIMAN DJAYA</title>
	<atom:link href="http://songsofseason.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://songsofseason.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 23:19:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='songsofseason.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a329a3c1377a87c9e47a26f0509a74fc?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SULAIMAN DJAYA</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://songsofseason.wordpress.com/osd.xml" title="SULAIMAN DJAYA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://songsofseason.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya: #12</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/13/anabasa-dan-mimpinya-12/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/13/anabasa-dan-mimpinya-12/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 12:18:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3519</guid>
		<description><![CDATA[Setelah selama berhari-hari dan bermalam-malam mengarungi lautan dengan gigih, salah-seorang dari orang-orang yang berada di kapal dengan layar-layar yang telah lusuh itu berteriak girang. “Ada daratan! Ada daratan di depan!” Teriak salah seorang dari mereka yang bernama Kandasa itu. Pemimpin mereka, yang bernama Kampala, segera menghampirinya dan langsung merasa kagum bercampur bahagia ketika ia melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3519&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah selama berhari-hari dan bermalam-malam mengarungi lautan dengan gigih, salah-seorang dari orang-orang yang berada di kapal dengan layar-layar yang telah lusuh itu berteriak girang. “Ada daratan! Ada daratan di depan!” Teriak salah seorang dari mereka yang bernama Kandasa itu. Pemimpin mereka, yang bernama Kampala, segera menghampirinya dan langsung merasa kagum bercampur bahagia ketika ia melihat gunung dengan kedua matanya sendiri dari ujung kapalnya itu. Tentu saja Kampala belum tahu apakah di situ ada penduduk atau manusia-manusia hutan ketika kapal mereka mulai mendekati lengkung laut dan daratan yang kini bernama Ujung Kulon itu.</p>
<p>Mereka menginjakkan kaki mereka dengan tetap waspada dan hati-hati ketika mereka telah mendarat di sebuah tempat yang tanpa sengaja mereka temukan tersebut setelah selama sebulan mereka bertarung dengan gelombang dan ombak lautan yang seringkali hampir mencelakakan mereka dan membuat kapal mereka karam di tengah samudera yang mereka arungi. Ketika itu mereka percaya bahwa yang telah menyelamatkan hidup mereka tak lain adalah keajaiban dan kebetulan, yang oleh orang-orang yang hidup di negeri-negeri dari tempat mereka mendarat itu disebut sebagai takdir.</p>
<p>Tentu saja, kala itu, lengkung laut dan daratan yang kini bernama Ujung Kulon itu, masih merupakan hutan belantara tempat para kera dan binatang-binatang buas hidup. Kampala, Kandasa, dan orang-orang yang menyertai mereka itu menggunakan senjata yang dulu mereka gunakan di negeri mereka untuk merebut kekuasaan di negeri yang telah mereka tinggalkan, kini mereka gunakan untuk melindungi diri dari serangan-serangan binatang-binatang buas, menebang pohon, dan membangun rumah-rumah panggung dari kayu di hutan dan karang di tepi lautan.</p>
<p>Pelan-pelan mereka pun telah menjadi orang-orang yang pandai berburu dan mencari ikan di lautan dengan sampan-sampan yang mereka buat dari bambu dan pohon-pohon yang mereka tebang dari hutan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.</p>
<p>Sedangkan kaum perempuan dan anak-anak mereka sudah dengan sendirinya tahu apa yang harus mereka lakukan seperti ketika mereka hidup di negeri mereka yang telah mereka tinggalkan setelah mereka kalah berperang dan melarikan diri agar terhindar dari kematian di negeri mereka sendiri. Dan beberapa pemuda dari mereka, karena terdorong rasa ingin tahu, mengunjungi beberapa gunung di hamparan Selat Sunda yang tak jauh dari mereka dengan menggunakan sampan atau perahu-perahu mereka yang awalnya mereka gunakan untuk mencari ikan di laut.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, mereka akan mengetahui bahwa di salah-satu gunung dari tujuh gunung yang ada ketika itu ada sebuah negeri yang bernama Negeri Agnynusa yang orang-orangnya hidup dari berkebun dan berburu. Gunung itu kini disebut sebagai Krakatau, mesti dulunya bernama Dewa Laut. Begitu pun sebaliknya, orang-orang di negeri Agnynusa, beberapa bulan sejak keberadaan mereka itu, bahwa lengkung laut dan daratan yang bertetangga dengan mereka, yang menurut mereka tempat hidup ular raksasa itu, kini telah dihuni manusia dan menamakan tempat itu sesuai dengan nama pemimpin mereka, Kampala.</p>
<p>Tak butuh waktu lama, berkat informasi dari orang-orang di Negeri Agnynusa itulah, Dewawarman mengetahui bahwa orang-orang Kampala itu datang dari sebuah bangsa yang sama dengan dirinya, meski dengan sebab dan alasan yang berbeda. Dewawarman yang sadar bahwa hal itu merupakan sebuah peluang untuk meluaskan ambisinya membangun Kemaharajaan Salakangara, segera mengutus Kantawarman ke Kampala untuk memberitakan perihal keberadaan dirinya dan Rajatapura. Dan demi meyakinkan Kampala, Kantawarman pun membujuk Kampala untuk menemani dirinya kembali ke Rajatapura agar dapat bertemu langsung dengan Dewawarman.</p>
<p>Tetapi hal yang sama juga dilakukan Anabasa, ketika Senapatih yang juga istri dan kekasih Dewi Ratu Ing Purabangsa itu memutuskan untuk mengunjungi Nusamandala dan bertemu langsung dengan Sri Baduga Jayawangsa, tak lama setelah salah-seorang pelaut Purabangsa di pelabuhan Gapura Sagara bercerita kepada dirinya perihal keberadaan negeri Nusamandala ketika pelaut itu tanpa sengaja diminta mengirimkan muatan oleh orang asing menuju pelabuhan yang diberi nama sesuai dengan nama panembahan di negeri itu, Sri Baduga Jayawangsa, yang bila disingkat, kelak menjelma nama Sriwijaya.</p>
<p>Begitulah, setelah sebelumnya ia mengunjungi Aki Patra di Gunung Karang, di pagi itu Senapatih Anabasa Jayasantika dan beberapa prajurit pilihannya berlayar mengarungi Laut Sunda menuju Nusamandala dengan menyertakan sejumlah hadiah yang akan diserahkan langsung kepada Sri Baduga Jayawangsa sebagai cinderamata dan tanda persahabatan antara Purabangsa dan Nusamandala. Sri Baduga Jayawangsa sendiri sebelumnya telah mengetahui perihal rencana kedatangan Senapatih Anabasa Jayasantika itu setelah salah-seorang pelaut Purabangsa berkunjung di Nusamandala. Sementara, di Pura lingkungan Sri Baduga Jayawangsa, putri semata wayang Sri Baduga Jayawangsa, Dewi Sekar Ratih, tengah asik mengenakan pakaian terbaiknya di kamarnya, yang meski tak terlampau luas, tapi cukup rapih dan mencerminkan penghuninya.</p>
<p>&#8211;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1490" title="sd" src="http://songsofseason.files.wordpress.com/2010/02/sd.jpg?w=650" alt=""   />Tentang penulis: Lelaki yang bernama lengkap Sulaiman Djaya dan yang sebenarnya di masa kanak-kanak bercita-cita ingin jadi ilmuwan ini tanpa sengaja di kemudian hari ketika mulai menginjak sekolah menengah malah senang membaca buku-buku sastra dan mulai belajar menulis, dan meski lahir di Serang, Banten pada 1 Januari 1978, ia juga kerapkali merasa sebagai warga dunia. Dan yang lebih penting, ia juga pandai memasak, semisal memasak mie rebus, nasi goreng, atau memasak air di atas kompor gas bila ia hendak membuat kopi hitam. Selain itu, terlepas dari kebiasaannya untuk tidur selepas subuh dan bangun ketika siang, ia juga gemar menonton film-film drama-romantis, dan entah karena ingin bergaya atau karena memang ia menyukainya, acapkali ia pun mendengarkan musik-musik jazz ketika tengah bosan atau di saat ia tengah merasa lelah. Namun, di atas segalanya, demikian pengakuannya, ia tetaplah seorang lelaki dan manusia biasa seperti kebanyakan orang. Demikianlah sekilas tentang lelaki yang menggemari warna hitam dan cukup good looking ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3519&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/13/anabasa-dan-mimpinya-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://songsofseason.files.wordpress.com/2010/02/sd.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #11</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/10/anabasa-dan-mimpinya-11/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/10/anabasa-dan-mimpinya-11/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 11:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3508</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar pukul tujuh pagihari untuk ukuran perhitungan waktu dan jam di jaman ini, Rara Shanti yang menyandang gelar Dewi Ratu Ing Purabangsa itu telah terbangun dari tidur malamnya yang lelap dan bahagia. Dari lengang jendela kamarnya yang telah ia buka saat itu, ia dapat memandang pagi yang cerah dan telah sempurna dengan bebas. Dan saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3508&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar pukul tujuh pagihari untuk ukuran perhitungan waktu dan jam di jaman ini, Rara Shanti yang menyandang gelar Dewi Ratu Ing Purabangsa itu telah terbangun dari tidur malamnya yang lelap dan bahagia. Dari lengang jendela kamarnya yang telah ia buka saat itu, ia dapat memandang pagi yang cerah dan telah sempurna dengan bebas. Dan saat ia telah mengetahui apa yang tengah dilakukan suaminya tercinta tanpa sepengetahuan dirinya sesaat setelah ia terbangun dari tidurnya yang bahagia itu, ia pun segera menetapkan hati untuk pergi dan berdoa ke kuil Hindu Purabangsa yang telah ada sejak ayahnya, Aria Wanamanta, masih hidup. Namun sebelum itu, ia terlebih dahulu menuju ke tempat pemandian, yang saat itu berbentuk kolam dengan dinding batu yang terletak di salah satu ruang di puri Purabangsa.</p>
<p>Di pemandian itu, ia ceburkan tubuhnya yang ramping dan putih, yang segera membuat gugusan rambutnya yang memanjang hingga ke pinggangnya saling berlekatan satu sama lain, dan lebih mirip selembar permadani sutra hitam yang menutupi punggungnya bila kita melihat bagian belakang tubuhnya yang terang itu. Sementara, bila kita melihat bagian depan dirinya kala itu, pemandangannya jadi tampak lebih indah, ketika dua buah melon yang menggantung di dadanya saat itu tampak seperti balon kembar berwarna kuning yang tergenang dalam kilauan bening air saat kedua tangannya sibuk saling membasuh satu sama lain secara bergiliran dan bergantian.</p>
<p>Anugerah mahakarya tubuhnya yang indah, yang di jaman ini dapat kita ibaratkan bak sebuah boneka pualam, itulah yang membuat Anabasa yang kini bergelar Senapatih itu menyentuhnya dengan hati-hati dan begitu lembut, dan kadang tergesa dan garang ketika mereka melakukan adegan-adegan sah sepasang suami-isrti yang selalu saja membuat mereka bahagia, bahkan berjam-jam setelah mereka sama-sama melakukannya dengan adil dan penuh cinta laiknya sepasang kekasih yang senantiasa di mabuk asmara.</p>
<p>Dan kini, di saat ia telah menghadap di kuil Hindu Purabangsa itu, ia tampak khusuk berdoa dengan hatinya yang lembut sembari menengadahkan wajahnya ke atas pura, di saat sepasang mata coklatnya yang bening dan berkaca-kaca seakan tengah berbicara kepada Sang Pemelihara Semesta sendiri. Persis pada saat itu, ia jadi teringat ibunya, Nhay Sekar Arum, yang telah lama meninggal setelah selama bertahun-tahun menanggung beban bathin karena tak sanggup memberi seorang putra yang diinginkan ayahnya, Aria Wanamanta. Tetapi pada saat yang sama, ada rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya yang lembut itu karena Sang Pemelihara Semesta telah menganugerahkannya seorang suami yang cukup tampan dan pernah menggubah mantra yang telah membuatnya jatuh cinta bahkan sebelum ia berjumpa dengan Anabasa yang telah menjadi suaminya dan telah bergelar Senapatih Jayasantika.</p>
<p>Sementara itu, senja hampir berakhir ketika Anabasa dan salah seorang kepercayaannya telah sampai di tempat pertapaannya Aki Patra, di salah satu tempat di dalam hutan di Gunung Karang itu. “Sukurlah kau telah datang sebelum malam.” Kata Aki Patra ketika Anabasa baru tiba di tempat pertapaannya itu. “Dan saya sudah tahu maksud kedatanganmu,” lanjutnya, “tetapi sebelum itu, waktu satu malam akan cukup untuk melakukan tapa yang akan kaulakukan sebelum keinginanmu dengan datang ke tempat ini terpenuhi.” “Saya telah siap, Ki.” Jawab Anabasa. “Kau sangat beruntung telah menikahi keturunan Aria Wanamanta yang cantik dan dapat menahan diri itu, yang dengan rasa taat di dalam hatinya akan senantiasa melakukan apa yang menurutnya patut dilakukan, meski pun ia tahu ada tumbal dan tantangan karenanya.” Lanjut Aki Patra. Namun Anabasa hanya bisa diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut reksi yang juga dikenal sebagai ahli membuat senjata itu.</p>
<p>Tetapi, seperti yang kelak terjadi, takdir Rara Shanti dan Anabasa akan berubah sebagai sebuah ketakterdugaan yang berlawanan dengan kehendak dan keinginan mereka selama ini. Dan meski Aki Patra telah terlebih dahulu mengetahui apa yang kelak akan terjadi pada mereka, reksi itu merasa memiliki kewajiban yang aneh untuk tetap merahasiakannya dan tak menceritakannya kepada Anabasa.</p>
<p>Di hari yang sama ketika Rara Shanti tengah khusuk berdoa di kuil Purabangsa itu, jauh di sebuah lautan sekelompok manusia yang gagah dan gandrung bertualang demi menaklukkan lautan tengah berjuang keras melawan badai dan gelombang, terik matahari dan deras hujan. Mereka telah beberapa hari berada di atas lautan sembari menangkap ikan atau menyelamatkan sisa-sisa makanan dari beberapa kapal yang karam yang mereka temukan dalam pelayaran mereka yang gagah perkasa demi menolak kematian dan bertahan hidup. Dan bila tak ada pilihan lain, mereka pun terpaksa merompak kapal lain dan memasak daging orang-orang yang berhasil mereka kalahkan dalam perjalanan pelayaran mereka itu.</p>
<p>Manusia-manusia gagah perkasa yang tengah berjuang keras mengarungi lautan itu adalah orang-orang yang bila tetap berada di negeri mereka akan terancam terbunuh dan tewas dalam peperangan yang tak seimbang telah menentukan pilihan untuk mengarungi lautan demi mencari negeri-negeri bagi tempat pelarian mereka setelah mereka dikalahkan saudara-saudara mereka yang memiliki kekuatan dan persenjataan lebih lengkap ketimbang mereka. Pada saat itu, mereka hanya tahu mengayuh dan mengembangkan layar tak peduli ke negeri mana pun akhirnya mereka akan sampai dan mendarat.</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari tokoh-tokoh Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3508/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3508/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3508&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/10/anabasa-dan-mimpinya-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #10</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/08/anabasa-dan-mimpinya-9-2/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/08/anabasa-dan-mimpinya-9-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 16:46:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3502</guid>
		<description><![CDATA[Bertahun-tahun setelah es mencair dan pelan-pelan terbentuklah lautan, yang berarti menandai berakhirnya jaman es ketika itu, tujuh gunung pun muncul di lautan yang memisahkan Purabangsa, Agnynusa yang telah berada di bawah kekuasaan negeri Salakangara, dan Nusamandala, lautan yang kini mencakup Selat Sunda dan Samudera Hindia. Di salah-satu gunung yang lebih besar dari yang lainnya itulah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3502&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bertahun-tahun setelah es mencair dan pelan-pelan terbentuklah lautan, yang berarti menandai berakhirnya jaman es ketika itu, tujuh gunung pun muncul di lautan yang memisahkan Purabangsa, Agnynusa yang telah berada di bawah kekuasaan negeri Salakangara, dan Nusamandala, lautan yang kini mencakup Selat Sunda dan Samudera Hindia. Di salah-satu gunung yang lebih besar dari yang lainnya itulah yang kemudian menjadi negeri Agnynusa, sementara di salah-satu gunung hiduplah beberapa manusia yang tubuhnya dua kali lebih besar dari manusia-manusia lainnya yang hidup di negeri-negeri tersebut.</p>
<p>Hari itu matahari telah mendekati garis senjanya ketika orang-orang di Nusamandala masih terus membangun sebuah kuil Hindu agar kehidupan keagamaan mereka dapat berjalan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Kuil yang dibangun orang-orang di Nusamandala itu memang tidak jauh dari sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat peristirahatan Sri Baduga Jayawangsa, orang yang dianggap sebagai penembahan di Nusamandala. Ia merasa sangat bersyukur dan bahagia melihat rakyatnya begitu antusias membangun kuil atas perintahnya itu, meski atas saran salah seorang reksi kepercayaannya yang bernama Ki Badur.</p>
<p>Dibanding Purabangsa, Agrabinta yang telah bersekutu dengan Purabangsa, dan Salakanagara, negeri Nusamandala memang merupakan sebuah negeri yang masih berusia dua tahun lebih ketika Purabangsa dan Salakanagara telah melewati usia sepuluh tahun. Negeri itu, sesuai dengan namanya, dibangun oleh penduduk setempat dan orang-orang migran yang datang dari sebuah negeri yang bernama Mandala, yang konon saat ini adalah Bangladesh.</p>
<p>Namun, sebagaimana Purabangsa, negeri yang masih muda itu juga telah memiliki pelabuhan karena memang menghadap dan berada di dekat lautan. Di pelabuhan yang mereka namakan dengan nama panembahan mereka itulah orang-orang di Nusamandala, seperti juga orang-orang di Purabangsa dapat menjalin hubungan dengan para pelaut dari negeri-negeri yang jauh. Dan seperti juga Dewi Ratu Ing Purabangsa, Sri Baduga Jayawangsa juga menyadari perlunya mengamankan pelabuhan mereka dari ulah para perompak dengan menempatkan para penjaga pantai mereka yang telah dilatih untuk berperang.</p>
<p>Menyadari bahwa pelabuhan merupakan hal yang paling penting untuk memperkuat negerinya dan memaksimalkan kekuasaannya, Dewawarman telah lama berencana dan memikirkan sebuah cara dan strategi untuk menaklukan Purabangsa, agar di kemudian hari ia juga bisa mengalahkan Nusamandala demi mewujudkan impiannya membangun kekuasaan yang akan ia namakan sebagai Kemaharajaan Salakangara. Tetapi secara bersamaan, Anabasa, yang kini telah bergelar Senapatih Anabasa Jayasantika itu, menyadari bahaya tersebut, dan karenanya ia pun mengangkat seorang Ksatria Purabangsa menjadi seorang panglima yang ia tugaskan untuk merekrut sejumlah pemuda yang akan dilatih kanuragan dan kemampuan membela serangan musuh.</p>
<p>Demikianlah, selama berbulan-bulan Dewawarman dan Senapatih Anabasa Jayasantika terus-menerus membangun sejumlah tempat pelatihan para prajurit demi memperkuat negeri mereka masing-masing dari ancaman-ancaman tak terduga, yang beberapa tahun kemudian menjadi nyata, apa yang kelak dikenal dengan peristiwa Huruhara Tatanagara, sebuah huruhara yang pada akhirnya telah menyebabkan lahirnya sebuah bangsa dan negeri baru yang dibangun oleh keturunan-keturunan mereka.</p>
<p>Suatu ketika, di saat fajar baru tiba di negerinya, di Purabangsa, Senapatih Anabasa Jayasantika pun pergi tanpa sepengetahuan istrinya, Dewi Ratu Ing Purabangsa, yang masih terlelap setelah adegan malam mereka, yang entah kenapa semakin mekar saja, demi menemui Aki Patra di pertapaannya di sebuah hutan di Gunung Karang. Tetapi, demi menghilangkan kecurigaan dan kegelisahan istrinya bila ia telah terbangun dari tidurnya, ia berpesan kepada salah-seorang prajurit Purabangsa yang dipercayainya agar menyampaikan pesannya jika istrinya telah terbangun dari tidurnya yang lelap itu.</p>
<p>Dengan membawa sebuah senjata yang lebih mirip pedang dan lebih panjang dari golok di pinggangnya, Senapatih Anabasa Jayasantika meninggalkan istrinya yang masih tertidur itu dengan ditemani salah-seorang kepercayaannya, seorang pemuda dari negeri Agrabinta yang kini telah menetap di Purabangsa atas perintahnya.</p>
<p>Kedua orang itu pun terus berjalan memasuki hutan-hutan melalui setapak-setapak yang tertutup daun-daun dan ilalang, yang hanya dapat melihat apa yang ada di depan mereka berkat cahaya matahari yang tidak seluruhnya bisa menerangi setapak-setapak jalan yang mereka lalui. Hanya sesekali saja mereka beristirahat untuk minum dan menabung tenaga untuk sementara sebelum mereka kembali meneruskan langkah mereka.</p>
<p>Sedangkan di sebuah tempat terpencil di antara hutan di Gunung Karang, Aki Patra masih tampak khusuk dalam meditasi yang telah ia jalani selama berjam-jam. Dan sebenarnya ia telah tahu berkat kekuatan daya telepatisnya bahwa di hari itu murid kesayangannya akan datang untuk menemuinya, dan ia telah siap untuk menerima kedatangan muridnya yang kini telah menjadi Senapatih itu.</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3502&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/08/anabasa-dan-mimpinya-9-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #9</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/06/anabasa-dan-mimpinya-9/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/06/anabasa-dan-mimpinya-9/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 10:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3495</guid>
		<description><![CDATA[Lima tahun kemudian, sejak kedatangannya ke negeri Purabangsa, ketika ia telah resmi mempersunting Rara Shanti, yang kini menjadi istrinya dan telah dinobatkan sebagai penguasa di Purabangsa dengan gelar Dewi Ratu Ing Purabangsa, Anabasa pun resmi dinobatkan sebagai Senapatih Anabasa Jayasantika. Bersamaan dengan itu, Dewawarman yang telah berhasil menyatukan Alas Wanara, Agnynusa, dan Prabunusa dalam lingkup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3495&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lima tahun kemudian, sejak kedatangannya ke negeri Purabangsa, ketika ia telah resmi mempersunting Rara Shanti, yang kini menjadi istrinya dan telah dinobatkan sebagai penguasa di Purabangsa dengan gelar Dewi Ratu Ing Purabangsa, Anabasa pun resmi dinobatkan sebagai Senapatih Anabasa Jayasantika. Bersamaan dengan itu, Dewawarman yang telah berhasil menyatukan Alas Wanara, Agnynusa, dan Prabunusa dalam lingkup satu geopolitik segera menetapkan nama Salaka Nagara untuk penyatuan negeri-negeri itu semua.</p>
<p>Persis ketika itulah telah terbentuk dua geopolitik dan dua geografi negeri yang baru yang saling mengintai dan saling bersaing secara diam-diam atau terang-terangan, dan kala itu keduanya telah sama-sama mengetahui sebuah negeri lain yang ketika itu bernama Nusa Mandala, yang saat ini telah menjadi Lampung dan Sumatera Selatan. Dan ketika mereka sama-sama memandang dan mengarahkan pikirannya ke utara, mereka pun sama-sama menginginkan Kalapa dan Tangaram yang kini bernama Jakarta dan Tangerang.</p>
<p>Rara Shanti, yang kala itu telah berusia dua puluh tahun, telah menjadi seorang perempuan yang sedang mengalami puncak kemekarannya yang paling subur dan bergairah. Dan Anabasa, yang kini telah resmi menjadi Senapatih Anabasa Jayasantika, segera memahami apa yang diinginkan Rara Shanti yang kini bergelar Dewi Ratu Ing Purabangsa, di awal malam itu demi menolak rasa beku akibat cuaca dingin di awal tahun kedua dari perhitungan Tahun Saka kala itu.</p>
<p>Di malam itu, dengan adil, mereka saling memberi dan meminta layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta, hingga gumpalan-gumpalan kesepian mereka selama ini segera menjelma magma dengan tiba-tiba yang segera pula berubah menjadi lahar yang tumpah begitu derasnya.</p>
<p>Esok harinya, mereka sama-sama tampak bahagia, dan tak lagi sama menerima dan menyentuh cahaya matahari dengan kedua mata mereka masing-masing, yang seperti biasanya, datang dengan lembut, meski saat itu sisa lembab masih tampak jelas di sekeliling mereka.</p>
<p>Namun, di Prabunusa, yang kini telah berganti nama menjadi Rajatapura, setelah negeri-negeri Alas Wanara, Agnynusa, dan Prabunusa resmi menjadi Salaka Nagara, Nhay Larasati selalu dirundung gundah dan gelisah sejak ayahnya, Aki Tirem, mengiyakan bujukan Dewawarman beberapa hari setelah Wanalapraja dan Sutalaksana yang diperintahkan melalui Kantawarman mendatangi Alas Wanara.</p>
<p>Rasa sungkan Nhay Larasati terhadap Dewawarman karena sejak semula telah menganggap Dewawarman tak lebih sebagai orang asing yang menginginkan apa yang belum dikenalnya. Tetapi semua itu hanya mampu ia pendam dengan teramat rahasia di dasar hatinya yang memang pandai memendam amarah dan gundah, sebelum beberapa tahun kemudian, di dalam hatinya pelan-pelan tumbuh sejenis cinta rahasia yang indah dan puitis kepada lelaki lain yang pernah ia bayangkan dalam mimpinya, jauh sebelum Wanalapraja dan Sutalaksana datang ke Alas Wanara.</p>
<p>Tetapi, seperti dalam beberapa pernikahan selebral di jaman itu, ia pun tak kuasa melawan keinginan Dewawarman yang telah menggelari dirinya sebagai Aji Raksa Gapura Sagara itu, yang secara fisik memang tak seimbang dengan tubuh Nhay Larasati yang mungil dan ramping kala itu.</p>
<p>Dan, kelak, seperti yang kemudian kita ketahui, dari rahim tubuhnya yang mungil itulah, akan lahir sejumlah generasi raja-raja di Nusantara dan keturunannya, yang kemudian akan bersaing dan bertempur dengan keturunan-keturunan yang lain dari manusia-manusia migran lainnya yang telah menetap di Nusantara.</p>
<p>Meskipun demikian, sebelum cerita ini berada di masa depan dari jaman ketika ia selalu merasakan kegundahan itu, suatu ketika di tahun keenam dalam perhitungan Tahun Saka, di dalam hati dan rahimnya tumbuh sebuah benih yang lain, yang berpuluh-puluh tahun kemudian, benih itu akan bertemu dengan keturunan yang lahir dari rahim Rara Shanti yang kini telah bergelar Dewi Ratu Ing Purabangsa itu, yang akhirnya akan melahirkan sejumlah generasi bangsa baru yang akan menjadi para penguasa dan pujangga, reksi, dan para pengrajin di negeri-negeri mereka yang konon pernah disebut sebagai negeri Dirgantara.</p>
<p>Dan seperti yang kemudian akan kita ketahui kemudian, di jaman-jaman itulah, orang-orang di Nusantara atau negeri Dirgantara yang sebagiannya adalah keturunan manusia-manusia migran dari negeri-negeri Hindus, Hun, dan Yunan yang jauh itu, dan negeri-negeri lainnya, yang kelak akan melahirkan sekelompok ras dan bangsa baru dan yang kemudian akan membentuk sebuah bangsa yang tak lagi dapat dibedakan, yang seperti kita kenal di kemudian hari, mereka akan melahirkan dan membangun sejumlah kerajaan-kerajaan baru silih-berganti dengan nama-nama semisal Tarumanagara, Kutai Kartanagara, Padjajaran, Sriwijaya, Majapahit, Singosari, dan masih banyak lagi.</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3495/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3495/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3495&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/06/anabasa-dan-mimpinya-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #8</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/05/anabasa-dan-mimpinya-8/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/05/anabasa-dan-mimpinya-8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 11:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3491</guid>
		<description><![CDATA[Cahaya matahari yang masih rapuh, lemah, dan belum terlampau terang mulai berhasil memasuki ruangan di mana Rara Shanti berada yang memasuki ruangan itu melalui sebuah jendela yang memang telah dibuka oleh Rara Shanti sejak sebelum fajar menjadi lengkap. Sejak fajar ia memang telah terbangun dari tidurnya, sementara kedua tangannya memegang selembar kertas yang terbuat dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3491&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cahaya matahari yang masih rapuh, lemah, dan belum terlampau terang mulai berhasil memasuki ruangan di mana Rara Shanti berada yang memasuki ruangan itu melalui sebuah jendela yang memang telah dibuka oleh Rara Shanti sejak sebelum fajar menjadi lengkap. Sejak fajar ia memang telah terbangun dari tidurnya, sementara kedua tangannya memegang selembar kertas yang terbuat dari bambu bertuliskan mantra-mantra kesukaannya yang baris-barisnya menggunakan huruf Pallawa.</p>
<p>Namun sebelum itu, saat ia terlelap di waktu malam, ia bermimpi berada di sebuah pulau, sebuah Nusa, di mana ketika itu ia tiba-tiba berada di sebuah tepi telaga besar, yang dalam mimpinya itu lebih mirip sebuah lautan. Di tepi telaga luas yang lebih menyerupai lautan itulah Rara Shanti melihat sejumlah kapal yang memiliki layar-layar mengembang tengah berlayar dan menuju ke tempat di mana ia berada di dalam mimpinya itu.</p>
<p>Setelah ia mengingat-ingat dan merenunginya sejenak, mimpinya itu mirip sekali dengan salah-satu cerita dan kisah yang pernah ia baca beberapa waktu sebelumnya, saat salah seorang reksi di Prabunusa memberinya beberapa lembar mantra untuk dipelajarinya, bila nanti ayahnya, Aria Wanamanta, dan ibunya, Nhay Sekar Arum, tidak memiliki seorang anak laki-laki untuk menggantikan kedudukan Aria Wanamanta untuk memimpin dan menjadi penghulu di negerinya di mana ia hidup sebagai seorang perempuan yang masih belia itu.</p>
<p>Sembari terus membaca lembar-lembar mantra kesukaannya, yang sebenarnya telah beberapa kali ia baca itu, Rara Shanti sesekali menengadahkan wajahnya ke arah dari mana cahaya matahari di negerinya itu datang dan mulai menerangi ruangan di mana ia duduk dan tercenung. Sedangkan kedua matanya yang mungil dan berwarna coklat itu tampak sedikit berkaca-kaca yang semakin membuat paras yang dimilikinya terlihat anggun. Meski saat terduduk dan tercenung itu, ada sedikit rasa gelisah di dalam hatinya yang lembut dan puitis.</p>
<p>Saat itu, Rara Shanti tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian kapal-kapal para pelaut yang ia lihat dalam mimpinya itu adalah kilasan bayangan sekelompok manusia dan para perompak yang bermigrasi yang pada suatu ketika saat ia mulai menjadi seorang perempuan yang memiliki kekuasaan di Purabangsa akan juga datang ke negerinya dengan kekuatan dan keterampilan yang sedikit lebih maju ketimbang negeri Purabangsa. Ia baru akan mengetahui arti mimpinya tersebut ketika beberapa hari kemudian ia menceritakannya kepada salah seorang reksi yang telah mengajarkannya seni menulis dan membaca mantra. Reksi itu bernama Aria Lokapala.</p>
<p>Sementara itu, di Alas Wanara, yang meski dengan perasaan berat hati yang merundung pikirannya, Aki Tirem akhirnya mengutus dua orang dari negeri itu untuk mengabarkan dan memberikan jawaban kepada Dewawarman beberapa hari setelah dua orang utusan dari Prabunusa, yang masing-masing bernama Wanalapraja dan Sutalaksana itu, meninggalkan Alas Wanara untuk kembali ke Prabunusa setelah menunaikan tugas mereka seperti yang diperintahkan pemimpin mereka, Kantawarman.</p>
<p>Dan seperti di Purabangsa ketika itu, seperti saat Rara Shanti tengah termenung di ruangannya tersebut, matahari baru terbangun dari tidurnya ketika Adimanta dan Rantasena menyusur sejumlah setapak jalan dalam gugusan hutan Alas Wanara demi menunaikan tugas yang telah diembankan oleh Aki Tirem kepada mereka.</p>
<p>Di tempat yang berbeda, di sebuah gubuk rahasia miliknya, Aki Patra masih terus menyalakan tungku pengapian tempat ia mencampur besi, tembaga, dan baja ke dalam bara yang bersuhu lima ratus derajat celcius lebih dalam ukuran sains saat ini. Hal itu ia lakukan setelah selama tiga hari dan tiga malam sebelumya melakukan puasa dan tapa di tempat terpencil di sebuah gunung yang saat ini dikenal sebagai Gunung Karang yang terletak di Banten bagian Barat.</p>
<p>Meskipun begitu, agar tak menimbulkan kecurigaan pada diri Kantawarman karena apa yang tengah ia lakukan selama ini, sesekali ia juga akan kembali ke Prabunusa, yang dengan itu terkadang ia juga akan mengambil beberapa kebutuhan di gubuknya di Prabunusa untuk ia bawa ke tempat pertapaan dan perapian rahasianya di Gunung Karang tersebut.</p>
<p>Dan meski telah membuatnya cukup lelah, Aki Patra tetap melakukan rutinitasnya tersebut karena ia yakin bahwa mimpi Anabasa yang diceritakan kepadanya beberapa waktu yang silam adalah sebuah pertanda akan terjadinya suatu peristiwa di masa yang akan datang, yang karenanya ia harus menyiapkan ancang-ancang, karena ia juga percaya peristiwa yang akan terjadi itu tak lain adalah goncangan dan huru-hara tatanagara karena sesuatu yang untuk sementara belum dapat ia ketahui dengan jelas, meski ia terus berusaha untuk menerka dan menduganya dengan jalan selalu peka untuk merasakan dan mengamati setiap perubahan dan pergeseran hidup di negerinya, di Prabunusa.</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3491&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/05/anabasa-dan-mimpinya-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #7</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-7/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-7/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 12:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3486</guid>
		<description><![CDATA[Kala itu, negeri Purabangsa adalah sebuah negeri yang jauh lebih maju di jamannya ketimbang negeri-negeri lainnya seperti negeri Prabunusa, Agnynusa, Alas Wanara, dan negeri Agrabinta sendiri yang tanpa sengaja telah bersahabat dan telah menjadi sekutu negeri Purabangsa. Orang-orang di negeri itu, yang konon masih dari ras yang sama dengan orang-orang di negeri Hun dan Yunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3486&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kala itu, negeri Purabangsa adalah sebuah negeri yang jauh lebih maju di jamannya ketimbang negeri-negeri lainnya seperti negeri Prabunusa, Agnynusa, Alas Wanara, dan negeri Agrabinta sendiri yang tanpa sengaja telah bersahabat dan telah menjadi sekutu negeri Purabangsa. Orang-orang di negeri itu, yang konon masih dari ras yang sama dengan orang-orang di negeri Hun dan Yunan yang jauh, bekerja sebagai para peladang dan pekebun dengan ladang-ladang dan kebun-kebun yang jauh lebih rapih dan lebih subur ketimbang empat negeri lainnya.</p>
<p>Dan seperti yang diceritakan Anabasa kepada Aki Patra kala itu, kedua orang tua Anabasa yang telah meninggal itu sebenarnya adalah orang-orang dari negeri Purabangsa yang datang ke Agrabinta dan kemudian menetap, tanpa alasan yang diketahui Anabasa, setelah mereka tahu bahwa negeri Agrabinta tak kalah subur dan kaya dengan negeri Purabangsa.</p>
<p>Tanpa diketahui orang-orang di negeri Prabunusa, Agnynusa, dan Alas Wanara kala itu, negeri Purabangsa yang memang terletak di puncak gunung tetapi menghadap ke lautan, telah memiliki sebuah pelabuhan yang mereka namakan sebagai Gapura Sagara, yang artinya Gerbang Samudera, di mana di pelabuhan tersebut dalam waktu-waktu tertentu akan datang beberapa pelaut dari negeri-negeri yang jauh untuk membeli hasil kebun orang-orang Purabangsa atau untuk menjual beberapa kebutuhan kepada orang-orang Purabangsa dengan cara barter.</p>
<p>Dalam waktu-waktu tertentu itu pula, orang-orang dari Agrabinta akan pergi membawa hasil pekerjaan sehari-hari mereka ke negeri Purabangsa dengan tak lagi menyusuri jalan setapak di hutan belantara Kantrawala, tetapi dengan jalan menyusuri lengkungan pulau dan laut yang akan menuntun mereka ke Purabangsa setelah selama bertahun-tahun mereka berjuang menemukan dan membangun jalan alternatif untuk tetap berhubungan dan berniaga dengan negeri Purabangsa. Dan barulah beberapa tahun kemudian, berkat pengalaman mereka tersebut, mereka pun mulai memiliki keterampilan untuk membuat perahu setelah beberapa kali mencobanya.</p>
<p>Atas saran dari Aki Patra, reksi yang telah menjadi gurunya itu, Anabasa pun akhirnya pergi ke Purabangsa untuk waktu yang cukup lama, meski pada mulanya ia harus menempuhnya dengan jalan berpura-pura dan menyamar sebagai pedagang senjata dan alat-alat lainnya yang berada di dalam sebuah kotak yang dibuat dan diukir oleh Aki Patra sendiri. Sementara itu, Aki Patra memutuskan untuk menetap di sebuah gubuk rahasia dengan membawa beberapa peralatan kerajinannya untuk membuat senjata pamungkas yang kelak akan diberikan kepada Anabasa.</p>
<p>Namun, sebelum Anabasa pergi ke Purabangsa, ia terlebih dahulu pergi negeri kampung halamannnya yang telah cukup lama ia tinggalkan, negeri Agrabinta, selama ia hidup di Prabunusa bersama Aki Patra. Dan barulah beberapa waktu kemudian, setelah ia telah sampai di negeri kelahirannya itu, ia akan pergi bersama beberapa orang yang sebagian dari mereka telah mengenal dirinya. Ia dan beberapa orang dari negeri kelahirannya itu menempuh perjalanan ke negeri Purabangsa dengan menggunakan sebuah perahu yang mereka dayung secara bergiliran dan bergantian.</p>
<p>Ketika itu hari telah hampir senja saat Anabasa dan beberapa orang dari negeri Agrabinta itu telah sampai di Purabangsa. Tentulah mereka merasa sangat lelah, setelah hampir selama seharian mereka harus mendayung perahu secara bergantian, sejak keberangkatan mereka di waktu fajar. Tetapi rasa lelah mereka tidaklah sia-sia ketika beberapa orang Purabangsa yang telah mengenal dengan baik sebagian dari mereka langsung membawa mereka ke sebuah lingkungan, yang mirip dengan komplek penginapan di jaman ini, untuk beristirahat dan menginap sebelum mereka akan kembali ke Agrabinta seperti dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya.</p>
<p>Ketika itu, penghulu sekaligus yang dipercaya sebagai panembahan negeri Purabangsa yang bernama Aria Wanamanta, telah memiliki seorang putri berusia belasan tahun yang bernama Rara Shanti. Yang dalam cerita ini memiliki rambut yang berwarna hitam dan panjang hingga ke pinggangnya, yang semakin membuat rupa paras dan tubuhnya yang ramping terlihat semakin anggun.</p>
<p>Berkat ajaran dan didikan para reksi kepercayaan ayahnya, Rara Shanti memiliki sejumlah lembar-lembar karya keagamaan dan kesusasteraan yang ia simpan di ruang pribadinya, hingga ia dapat membaca sejumlah tulisan pada lembar-lembar yang terbuat dari bambu itu kapan saja ketika ia ingin membacanya. Dan yang paling disukai Rara Shanti adalah sejumlah mantra dalam tumpukan lembar-lembar kesusasteraan, yang salah-satunya berisi gubahan karya Anabasa yang kala itu didapatkan oleh salah seorang reksi di Purabangsa melalui seorang penduduk negeri Agrabinta yang senang bersenandung dan membaca mantra. []</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3486&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya*: #6</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-6/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 07:19:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3478</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Aki Patra ketika itu, Anabasa bercerita bahwa sebagian orang-orang di negeri Agrabinta mempercayai bahwa ular raksasa Bhutamantra berasal dari sebuah negeri lain yang datang ke hutan Kantrawala setelah mengarungi lautan dan menempuh perjalanan selama beberapa hari yang melelahkan, sembari sesekali menelan para pelaut dan nelayan yang ia jumpai dalam perjalanannya yang jauh dan panjang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3478&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Aki Patra ketika itu, Anabasa bercerita bahwa sebagian orang-orang di negeri Agrabinta mempercayai bahwa ular raksasa Bhutamantra berasal dari sebuah negeri lain yang datang ke hutan Kantrawala setelah mengarungi lautan dan menempuh perjalanan selama beberapa hari yang melelahkan, sembari sesekali menelan para pelaut dan nelayan yang ia jumpai dalam perjalanannya yang jauh dan panjang itu. Sejak saat itulah Bhutamantra hidup dan menetap di hutan Kantrawala yang tidak terlalu jauh dari negeri Agrabinta.</p>
<p>Tanpa ia sadari dan tanpa ia sengaja, ketika Anabasa tengah bercerita tentang asal-mula Bhutamantra kepada Aki Patra di hari itu, Anabasa juga bercerita kepada reksi itu bagaimana mulanya negeri Agrabinta sendiri ada. Dan seperti yang diceritakan Anabasa kepada Aki Patra saat itu, negeri Agrabinta bermula dan lahir ketika sekelompok manusia yang setengah telanjang dan hanya mengenakan pakaian yang minim dari kulit binatang hasil buruan mereka datang untuk mencari tanah yang subur demi memenuhi kebutuhan makan sehari-hari mereka dengan bercocok tanam dan berburu. Mereka datang pada sebuah jaman ketika Nusantara dan benua Asia masih menyatu alias belum dipisahkan oleh lautan dan samudra.</p>
<p>Sejak saat itulah mereka memutuskan secara bersama-sama untuk menetap, dan lambat-laun mereka pun memiliki kemampuan dan keterampilan yang lebih baik untuk membuat dan membangun rumah-rumah panggung dari kayu yang beratap dari daun. Mereka juga semakin mahir dalam menanam, mengolah tanah dan membuat alat-alat yang mereka perlukan untuk bertani dan berburu. Sementara itu, kemampuan berburu mereka tanpa mereka sengaja yang kemudian telah mengajarkan mereka seni dan kemampuan berperang secara alamiah, seperti yang akan terjadi beberapa tahun kemudian.</p>
<p>Hanya saja, demikian seperti yang diceritakan Anabasa kepada Aki Patra ketika itu, bersamaan dengan hijrahnya sekelompok manusia yang kelak akan menjadi para penduduk negeri Agrabinta itu, seeekor ular raksasa betina yang tengah mengandung calon anaknya, yang entah karena alasan apa, juga melakukan migrasi dari tempat dan negeri asalnya yang akhirnya singgah dan beranak di hutan Kantrawala. Anak ular raksasa itulah yang kemudian dikenal sebagai Bhutamantra.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, seperti yang telah diceritakan Anabasa sebelumnya, tiga orang dari negeri Agrabinta pergi berburu ke hutan Kantrawala demi mendapatkan beberapa binatang untuk kebutuhan ritual dan perayaan adat orang-orang di negeri tersebut. Tanpa mereka duga saat mereka telah memasuki hutan belantara itu, seekor ular raksasa muncul di hadapan mereka, yang tak diragukan lagi, berniat menyerang ketiga orang pemburu dari negeri Agrabinta itu. Namun apa daya, ukuran dan kekuatan ular raksasa itu tak sanggup dilawan oleh mereka, hingga akhirnya dua orang dari ketiga pemburu itu harus mengakhiri hidupnya di perut ular raksasa Bhutamantra, meski seorang dari mereka berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke negeri Agrabinta. Dan keselamatan seorang dari mereka itu sebenarnya karena Bhutamantara telah merasa cukup kenyang hingga tak perlu menelan orang yang ketiga dari para pemburu itu.</p>
<p>Begitulah, orang-orang Agrabinta yang mulanya tak mempercayai keberadaan Bhutamantra seperti ketika beberapa waktu sebelumnya salah seorang dari mereka telah menceritakannnya, tiba-tiba segera mempercayainnya saat mendengarkan paparan dan cerita salah seorang pemburu yang selamat dari keganasan ular raksasa Bhutamantra itu.</p>
<p>Sejak hari itu, demi melindungi negeri mereka di setiap waktu, baik pagi, siang, senja, atau pun malam, orang-orang di negeri Agrabinta secara bersama-sama mulai menebang pohon yang dekat dengan rumah-rumah mereka, mengumpulkannya, dan membuat pagar tinggi yang mengelilingi negeri mereka. Dan ketika kamampuan arsitektural mereka lambat-laun berkembang dan semakin maju karena hal itu, mereka mulai menemukan cara dan keterampilan untuk membuat bata, hingga pada akhirnya mereka mampu membuat benteng yang terbuat dari batu yang di sekeliling benteng yang mereka buat itu dilengkapi dengan perunggu-perunggu runcing dan tajam yang terbuat dari sejumlah tembaga yang sebagiannya mereka dapatkan dari negeri tetangga mereka yang bernama negeri Purabangsa. []</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3478/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3478/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3478&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/03/anabasa-dan-mimpinya-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anabasa dan Mimpinya: #5</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/01/anabasa-dan-mimpinya-5/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/01/anabasa-dan-mimpinya-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 18:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3474</guid>
		<description><![CDATA[Meski harus menempuh setapak dan gugusan hutan, Wanalapraja dan Sutalaksana berjalan bersama-sama saat fajar baru terjaga di Prabunusa. Berbekal beberapa makanan dan senjata di pinggang mereka masing-masing, dua pemuda itu dikenal sebagai orang-orang yang telah mengenal dengan baik jalan dan rute menuju Alas Wanara. Mereka juga dikenal sebagai ksatria dan pemburu yang handal di Prabunusa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3474&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meski harus menempuh setapak dan gugusan hutan, Wanalapraja dan Sutalaksana berjalan bersama-sama saat fajar baru terjaga di Prabunusa. Berbekal beberapa makanan dan senjata di pinggang mereka masing-masing, dua pemuda itu dikenal sebagai orang-orang yang telah mengenal dengan baik jalan dan rute menuju Alas Wanara. Mereka juga dikenal sebagai ksatria dan pemburu yang handal di Prabunusa. Karena keahlian mereka itulah, Dewawarman mempercayai mereka sebagai dua utusan ke Alas Wanara untuk meminta Aki Tirem agar mau bergabung dengan Prabunusa dan mau mengakui Dewawarman sebagai penguasa sekaligus penghulu mereka satu-satunya.</p>
<p>Di hari dan pagi yang sama itu, Dewawarman juga mengutus Padmanta dan Ranabaksa ke negeri Agnynusa. Sementara itu, Wanareja dan Manggala diutus ke negeri Agrabinta, negeri kelahiran Anabasa. Mereka semua mengemban tugas yang sama seperti tugas yang diembankan kepada Wanalapraja dan Sutalaksana. Mereka juga berangkat dari padepokan yang sama setelah pemimpin mereka, Kantawarman, menjelaskan kepada mereka perihal yang menjadi tugas utama mereka, selain menyampaikan kepada para penghulu negeri-negeri yang mereka kunjungi agar mau mengakui Dewawarman sebagai penguasa mereka satu-satunya.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, setelah kedatangan dua utusan dari Prabunusa, Wanalapraja dan Sutalaksana, itu Aki Tirem dan Nhay Larasati tampak gelisah, meski mereka tak memiliki banyak pilihan. Sebab Aki Tirem sendiri bisa menilai kebesaran dan kekuatan Prabunusa dibandingkan Alas Wanara sejak kedatangan dua utusan Prabunusa itu.</p>
<p>Berbeda dengan empat utusan yang masing-masing ke Alas Wanara dan Agnynusa itu, dua utusan yang dikirim ke Agrabinta mengalami nasib yang berbeda. Dua utusan Dewawarman yang diutus ke Agrabinta, yang masing-masing bernama Wanareja dan Manggala, itu tewas dalam perjalanan pulang mereka ketika mereka menempuh sebuah jalan di hutan belantara yang oleh orang-orang Agrabinta disebut dengan Belantara Kantrawala.</p>
<p>Konon, Wanareja dan Manggala yang diutus ke Agrabinta itu harus mengakhiri hidup mereka ketika mereka tak sanggup mengalahkan ular raksasa yang menyerang mereka dan yang akhirnya menelan tubuh mereka di saat kedua utusan itu sebenarnya belum tewas ketika ular raksasa yang konon dikenal oleh orang-orang Agrabinta sebagai Bhutamantra itu mencaplok tubuh Wanareja dan Manggala dengan mulutnya yang sebesar mulut gua.</p>
<p>Anabasa telah lama mengetahui perihal keberadaan ular raksasa yang oleh orang-orang di negerinya dengan sebutan Bhutamantra itu, yang konon seringkali memakan dan menelan siapa saja yang tersesat di hutan yang menjadi tempat tinggalnya, yang oleh orang-orang Agrabinta disebut sebagai Belantara Kantrawala itu. Itulah sebabnya negeri Agrabinta dikelilingi benteng yang terbuat dari granit dan batu yang di atasnya dilengkapi dengan barisan rapih tembaga-tembaga tajam yang runcing. Dan berkat benteng itu pula, meski dimaksudkan untuk melindungi orang-orang Agrabinta dari serangan Bhutamantra, bertahun-tahun kemudian yang telah membuat negeri Agrabinta sulit ditaklukan oleh Dewawarman ketimbang Alas Wanara dan Agnynusa.</p>
<p>Di Prabunusa sendiri, baik Dewawarman atau pun Kantawarman tidak mengetahui bahwa ketidakpulangan Wanareja dan Manggala ketika itu karena mereka telah ditelan ular raksasa Bhutamantra. Karena ketidaktahuannya itu pula, Dewawarman pun merasa gelisah bahwa bila kedua utusannya itu memang sengaja dibunuh oleh orang-orang Agrabinta, tentulah orang-orang Agrabinta telah berani menantang dan meremehkan dirinya sebagai penguasa Prabunusa.</p>
<p>Rasa gundah yang sama juga dirasakan Anabasa dan Aki Patra, terlebih-lebih Aki Patra ketika ia tahu dari mulut dan cerita Anabasa sendiri bahwa bukanlah adat dan kebiasaan orang-orang Agrabinta untuk membunuh orang lain, meski orang asing yang datang ke negeri mereka sekalipun. Karena merasa resah melihat kegelisahan Aki Patra ketika itu, Anabasa pun akhirnya bercerita kepada Aki Patra tentang seorang penduduk Agrabinta yang tanpa sengaja melihat ular raksasa yang kemudian dikenal dengan nama Bhutamantra itu. Mulanya orang-orang Agrabinta tidak mempercayai salah-seorang dari mereka yang menceritakan keberadaan Bhutamantra tersebut, sebelum akhirnya beberapa orang dari negeri mereka dikabarkan hilang di hutan Kantrawala tanpa meninggalkan jejak atau jasad mereka. []</p>
<p>*Cerita ini murni fiksi meski beberapa tokohnya diambil dari Kerajaan Salakanagara yang konon merupakan kerajaan pertama di Nusantara.</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3474&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2012/01/01/anabasa-dan-mimpinya-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Sebuah Diary</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/31/cerita-sebuah-diary/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/31/cerita-sebuah-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 14:20:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3465</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah tempat, ketika untuk waktu yang cukup lama, aku selalu setia menemaninya dalam kesendirian. Ia, yang tak ubahnya seorang lelaki yang memang biasa, dan hampir setengah gila, tak pernah berhenti untuk termenung. Atau, bisa dikatakan, tak pernah bosan mengkonsumsi bergelas-gelas kopi hitam dan jutaan kata, yang anehnya, tak pernah berhenti keluar dari khayalannya, meski [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3465&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah tempat, ketika untuk waktu yang cukup lama, aku selalu setia menemaninya dalam kesendirian. Ia, yang tak ubahnya seorang lelaki yang memang biasa, dan hampir setengah gila, tak pernah berhenti untuk termenung. Atau, bisa dikatakan, tak pernah bosan mengkonsumsi bergelas-gelas kopi hitam dan jutaan kata, yang anehnya, tak pernah berhenti keluar dari khayalannya, meski kadang mereka juga terlelap terlampau lama di saat ia diserang rasa bosan yang membuatnya hanya ingin bermalas-malasan. Tetapi, apa yang ingin kuceritakan ini, sebenarnya tentang aku, dirinya, dan ingatan.</p>
<p>Baiklah aku akan mulai saja, sebelum aku menjadi lupa dengan apa yang ingin kuceritakan.</p>
<p>****<br />
Apa yang membuat usia menjadi monumen dan tetap berada di tempatnya? Jawabnya tentu saja adalah ingatan. Seseorang bisa menyimpannya ke dalam sebuah sajak, atau menjelmakannya menjadi komposisi musik, atau dengan warna-warna pada sebuah kanvas, tempat ia bisa bebas menggerakkan tangan dan pikirannya. Hal itu pulalah yang ingin kuceritakan tentang diriku dan tentang seorang lelaki yang sangat kukenal dan begitu karib denganku untuk waktu yang terbilang cukup lama.</p>
<p>Kurenungi sejenak perabot rumah tangga yang menempel dan bergelantungan di dinding dapur yang bisu dan telah ditinggalkan ibuku. Sesekali aku menggunakannya untuk memasak menu kesukaanku, semisal tumis kangkung atau pepes tahu. Setelah itu, seperti biasa, kuhisap rokok kretekku yang ujungnya telah merah dan membara, dan memandangi malam yang jauh lewat sebuah pintu yang terbuka. Sementara, di pagihari, kubaca November yang sibuk merapihkan daun-daunnya setelah cukup sekian lama bertarung dengan kemarau jingga.</p>
<p>Sebenarnya, ada banyak sekali yang ingin kukatakan, seperti ketika di waktu senja, angin terus saja bercengkerama dengan keheningan, dengan waktu yang tak tampak dan selalu saja menyamar sebagai gugusan warna, entah terang atau pun pucat, seperti seorang perempuan yang putus-asa karena terserang demam cinta.</p>
<p>Ke belakang rumah, di mana sawah-sawah terhampar, dapat kudengar ricik air, meski samar dan lebih mirip gumam di dalam hatiku sendiri yang tengah merenungi kesendirian. Dan memang, di luar, di mana aku sebenarnya ingin bebas seperti burung-burung yang terbang dan hijrah dalam kebisuan, mendung masih membentang, tetapi tak apa, sebab karenanya aku jadi ingat yang sempat kulupakan untuk jangka waktu yang cukup lama. Seperti sayap-sayap mereka yang mengarungi awan dan cakrawala.</p>
<p>Ah, rasa-rasanya, bila sudah kuingat-kuingat bagaimana seorang lelaki menceritakan kesepian masa kanak dan masa remajanya yang jauh dari sebuah dunia yang riuh, ramai dan gembira, aku ingin sekali mengajaknya berbincang, sekedar untuk menghibur masa silamnya yang tak bahagia dan kesepian.</p>
<p>Betapa hampir setiap malam ia menggerakkan jari tangannya pada lembar-lembar catatan harian, tempat ia bisa mengungkapkan keluh-kesahnya sebagai seorang lelaki yang kesepian, dan tak memiliki kesibukan selain merenung, mengkhayal, menulis atau membaca di dalam ruangannya yang bersahaja. Anda, para pembaca, jika saja anda tertarik dengan apa yang ingin kuceritakan, mungkin saja akan jatuh iba padanya. Tetapi, lupakan saja hal itu, biarlah ia becerita atau menceritakan dirinya saja dengan sesuka hatinya.</p>
<p>Kadangkala ia pun lupa untuk membasuh badannya karena terlampau asik membaca dan menulis di mejanya. Ia baru akan menyadari hal itu bila tubuhnya mulai berkeringat dan t-shirt yang dikenakannya terasa basah dan menyebarkan aroma tak sedap. Itu hanya salah satu kebiasaannya saja, sebab adakalanya ia bisa tertidur di atas mejanya, tak ubahnya pengarang romantik abad ke-18 yang kehabisan tenaga ketika sedang menulis sebuah sajak cinta.</p>
<p>Di hari ia terduduk di depan mejanya itu, contohnya, sebenarnya ia sudah cukup bosan menjalani waktu-waktu kesehariannya sebagai seorang lelaki yang hanya menghisap rokok dan menyeruput kopi hitam. Namun apa boleh buat, ia sudah terlanjur merasa tak ada hal lain yang sanggup ia lakukan, atau minimal mengerjakan pekerjaan yang cocok dengan hatinya.</p>
<p>Entah ini kebiasan yang wajar ataukah terbilang buruk, setiapkali ia terbangun dari tidurnya, yang pertama-tama ia lakukan adalah memanaskan segelas air dengan kompor gas demi membuat segelas kopi hitam. Tentu saja setelah ia mencuci mukanya, meski ia merasa tak perlu merapihkan rambutnya yang acak-acakan karena selama bejam-jam bergelut dengan bantal. Dan setelah itu, yah seperti biasanya, ia hanya akan mengkhayal, memikirkan kata-kata apa saja yang cocok untuk ia tuliskan di lembar-lembar catatan hariannya.</p>
<p>Di pagi itu, ia mencoba untuk menyelesaikan sebuah puisi yang belum sempat ia rampungkan. Tak seperti di waktu-waktu sebelumnya, kali ini tak ada alunan suara musik atau lantunan suara penyanyi sopran di ruangannya. Mungkin, ia sudah cukup merasa nyaman dan damai karena suara-suara cericit dan kicauan burung dari balik pintu dan dinding yang tak jauh dari tempatnya menulis itu. Bisa juga dikatakan, bahwa ia sebenarnya tak sadar bila selama ini ia terserang wabah obsesif. Sebab, untuk beberapa kali dan berulangkali, ia tak bisa menyelesaikan apa yang ingin ditulisnya, hingga ia harus memulai lagi tulisan yang lain. Untunglah, kali ini ia akhirnya dapat menyelesaikan tulisannya, meski sempat tertunda untuk beberapa hari.</p>
<p>Aku sendiri sempat mengambil kesimpulan, bahwa mungkin saja ia sebenarnya bisa disebut seorang lelaki yang agak sedikit gila, karena sikap keras kepalanya yang telah membuatnya lebih mirip seorang lelaki dungu yang terlampau terobsesi pada satu hal saja. Oh, seandainya saja ia menjadi seorang penjual kosmetik atau menjadi seorang bartender di sebuah kafe atau diskotik di kota besar, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda, dan ia tak perlu dipusingkan dengan kata-kata yang ingin ia tuliskan. Sebab, kalau pun ia memiliki kesibukan lain, paling-paling hanya membaca beberapa berita sebuah koran lokal sembari bersandar di kursinya.</p>
<p>Oh ya, aku hampir lupa menceritakan kepada Anda, para pembaca, salah satu tingkahlakunya yang cukup mengherankanku, yaitu saat ia lupa menghisap rokok kreteknya yang ia letakkan pada asbak keramik ketika kata-kata di dalam pikirannya mengalir deras melalui tangannya, dan saat ia sadar dengan hal itu, ia akan tampak kecewa karena telah membiarkan sebatang rokok kreteknya terbakar sia-sia. Rasa kecewanya itu kemudian berganti rasa kesal saat ia juga tahu bahwa sebatang rokok kreteknya yang telah terbakar sia-sia itu memang hanya satu-satunya di pagi ketika ia menulis itu. Dan, pada saat itu pula, ia akan menyalahkan dirinya sendiri sebagai tak ubahnya seorang lelaki dungu.</p>
<p>Demi mengobati rasa kesalnya itu, ia akan berpura-pura termenung sembari memandangi mendung lewat pintu ruangannya yang memang selalu ia buka setiap pagi saat ia terbangun dan bosan bergelut dengan bantal. Atau, ia akan berpura-pura membaca beberapa majalah dan jurnal yang memang bergeletakan di meja kerjanya bersama beberapa gelas yang berbaris dengan sisa-sisa dedak kopi hitam bekas konsumsi kesehariannya, yang beberapa di antaranya telah mengering dan warna hitamnya telah berubah coklat.</p>
<p>Pernah suatukali ia bercerita kepadaku, tentu saja tentang perasaan-perasaannya sebagai seorang lelaki, ketika ia kembali jatuh cinta. Saat itu ia tergoda untuk, lagi-lagi seperti biasanya, menulis sebuah sajak cinta, dan kali ini ia berhasil melakukannya. Sebenarnya sebuah sajak cinta yang terbilang singkat yang ia bacakan dengan datar dan pelan saja di dalam hati dan pikirannya setelah ia baru saja menyelesaikannya. Jujur saja, saat itu aku ingin sekali tertawa, tetapi rasa ibaku berhasil mencegah keinginanku itu. Sebab menurut dugaanku saat itu, di dalam hatinya ada sedikit rasa sedih dan getir, meski ia jarang menceritakannya karena watak dan pembawaannya yang pemalu dan canggung.</p>
<p>Bisa jadi aku jatuh hati kepadanya. Hanya saja, lagi-lagi, rasa lucu berhasil menghalangiku untuk tergoda pada hal-hal yang sentimentil seperti itu. Memang, awalnya aku tak membayangkan jika ia adalah seorang lelaki yang lemah dan rapuh, maksudku tentu saja adalah perasaannya. Terlebih lagi saat bertahun-tahun dulu ia pernah jatuh cinta dengan perasaan yang teramat mendalam kepada seorang perempuan. Sampai-sampai ketika itu ia lebih mirip seseorang yang terjebak di dalam sebuah jurang yang curam dan ia hampir saja tak bisa keluar untuk jangka waktu yang terbilang cukup lama.</p>
<p>Kepada Anda, para pembaca, jujur aku katakan bahwa awalnya aku tak percaya ketika akhirnya ia berhasil menyelamatkan dirinya, setelah keadaan dirinya yang berlarut-larut terjerembab dalam sentimentalitas yang tak karuan itu, yang ketika ia sadar tak ubahnya seperti seseorang yang kembali menemukan nyawanya setelah mengalami koma selama berbulan-bulan. Karena pengalamanku bersamanya selama bertahun-tahun itu pula, tanpa kusadari antara aku dan dirinya telah terjadi persahabatan yang mendalam secara diam-diam. Aku pun kerapkali jatuh cinta dengan sajak-sajak yang ia gumamkan di hati dan pikirannya.</p>
<p>Oh ya, ada satu hal lagi yang hampir lupa kuceritakan kepada Anda, para pembaca, bahwa sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang pernah dijalaninya sebelum ia menjadi seorang pengkhayal terhormat yang bermain-main dengan jutaan kata dan ribuan diksi dalam pikirannya. Sebutlah ia pernah menjadi seorang pekerja lapangan untuk sebuah lembaga penelitian yang mempekerjakannya di lingkungan-lingkungan kumuh di kawasan Jakarta. Pada saat itu, ia jadi tahu bahwa banyak orang, yang entah kenapa, mau hidup dengan sampah dan aroma-aroma tak sedap yang menyengat hidungnya. Ia juga pernah bekerja sebagai pengangkut barang-barang kotor dan piring-piring bekas di acara-acara pesta pada sebuah CV, juga ketika ia di Jakarta, yang kebetulan ketika itu statusnya masih sebagai seorang mahasiswa yang bekerja serabutan untuk memenuhi hidup sehari-harinya sebagai seorang mahasiswa pas-pasan. Ada pun pekerjaan yang pernah cukup membanggakannya adalah ketika ia bekerja sebagai penulis magang di sebuah perusahaan majalah hukum dan politik, juga di Jakarta.</p>
<p>Tetapi di atas semua itu, kegemarannya bercerita kepadaku sungguh telah membuatku jadi kagum pada sikapnya itu. Termasuk ketika ia menceritakan kisah-kisah yang menurutku terbilang sangat pribadi, yang untungnya hanya aku yang tahu. Seakan-akan ia memperlakukan diriku tak ubahnya kekasih tercintanya yang paling setia dan yang paling mengerti dirinya, dan yang paling bisa dipercaya untuk merawat rahasia gelapnya, yang hanya kadang-kadang saja ia samarkan ke dalam sajak-sajak yang ditulisnya.</p>
<p>Lain ceritanya bila di waktu malam, di waktu-waktu ia bisa menkonsumsi bergelas-gelas kopi hitam hingga tengah malam. Di waktu-waktu itu, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menemukan kata yang paling tepat demi menyempurnakan bunyi parafrase sajak yang sedang ditulisnya. Itulah kenapa aku hampir saja menyebutnya sebagai seorang lelaki setengah gila dengan semua yang dilakukannya selama berjam-jam itu.</p>
<p>Bahkan ia pernah menuliskan beberapa kalimat yang berbunyi seperti ini kepadaku: “Jika aku mati, berapa banyak orang yang akan membaca apa yang kutulis. Ataukah hanya akan terselip sia-sia di antara buku-buku yang tak dibaca di perpustakaan?” Sebenarnya aku hampir tertawa terbahak-bahak karena apa yang digumamkannya itu, jika saja rasa iba tak berhasil mengalahkan niatku itu. Sebab, betapa pun mungkin apa yang ditulisnya itu terdengar kekanak-kanakkan, terus-terang aku merasakan kejujuran yang langka. Juga, siapa sangka, hanya kepadaku, yah hanya kepadaku, ia bisa bebas menceritakan apa saja tanpa sungkan, termasuk perasaan kekanak-kanakkan yang sebenarnya agak menggelikan itu.</p>
<p>****</p>
<p>Tanpa terasa aku telah bercerita banyak tentang dirinya dan diriku sendiri kepada Anda, para pembaca, meski tentu saja tak semuanya. Itu semua karena aku memang tak mengetahui secara detil bila ia sedang tak bersamaku. Aku juga tak tahu seperti apa kehidupan masa kanak-kanaknya. Tetapi, dari tingkahlaku dan sebagian yang ia ceritakan kepadaku semenjak terjalin persahabatan diam-diam antara aku dan dirinya, setidak-tidaknya aku bisa menduga bahwa masa kanak-kanaknya bisa dibilang tidak bahagia. Itu dapat kubaca dari letupan kata yang ditulisnya. Juga, khayalan dan angan-angan yang digumamkannya ketika ia menulis dan bercerita kepadaku.</p>
<p>Anehnya aku pun sebenarnya dilanda kesepian, yang mungkin tak jauh berbeda dengan kesepian yang dirasakan dan dialaminya, ketika ia sedang tak menulis atau bercerita kepadaku. Di saat aku tergeletak sendirian di mejanya, bertemankan aroma apak abu rokok dan dedak-dedak kopi yang ditinggalkannya, yang memang telah berubah warna. Sejak aku bercerita tentang itu semua, sudah berbulan-bulan aku merasakan kesendirianku ini. []</p>
<p>Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3465/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3465/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3465&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/31/cerita-sebuah-diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Sudut Kota</title>
		<link>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/28/dari-sudut-kota/</link>
		<comments>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/28/dari-sudut-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 09:13:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulaiman Djaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poems]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://songsofseason.wordpress.com/?p=3442</guid>
		<description><![CDATA[Sepi itu seperti tinta, dan aku menulis selembar catatan harian. Kucintai engkau seperti saat kuminum jus jambu dengan sepotong keju dari masa lalu. Bila gelisah tak juga usai ketika lembab malam masih panjang, masa silam jadi begitu nyata dan aku takkan lupa bagaimana menerjemahkannya. Jalan-jalan basah, kota-kota yang terlelap, tak selamanya pandai menyembunyikan lelahnya. Saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3442&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepi itu seperti tinta,<br />
dan aku menulis selembar catatan harian.<br />
Kucintai engkau seperti saat kuminum jus jambu<br />
dengan sepotong keju<br />
dari masa lalu.</p>
<p>Bila gelisah tak juga usai<br />
ketika lembab malam masih panjang,<br />
masa silam jadi begitu nyata<br />
dan aku takkan lupa<br />
bagaimana menerjemahkannya.</p>
<p>Jalan-jalan basah, kota-kota yang terlelap,<br />
tak selamanya pandai<br />
menyembunyikan lelahnya.<br />
Saat mataku mulai mengantuk,<br />
mimpi tak jadi mengetuk.</p>
<p>Ada hidup yang terlontar<br />
dan mungkin sia-sia<br />
ketika seseorang ingin menceritakannya<br />
di meja baca<br />
dan ruang yang sama.</p>
<p>Tetapi, sebelum letih jadi kandas,<br />
ada baiknya aku menyimak<br />
kenapa suara-suara dan diam<br />
di luar, seakan masih saja bimbang<br />
seperti sebuah sajak?</p>
<p>Jakarta 2011,<br />
Sulaiman Djaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/songsofseason.wordpress.com/3442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/songsofseason.wordpress.com/3442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=songsofseason.wordpress.com&amp;blog=3732342&amp;post=3442&amp;subd=songsofseason&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://songsofseason.wordpress.com/2011/12/28/dari-sudut-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/605d947f2f726b9f8570abec2eab1eff?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kumbang Hutan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
