Tags

, , , , ,

Majalah Jawara Nomor 4 2016

Empat Puisi Majalah Jawara No. 4 2016 –

AKASIA

Ada suatu ketika ibuku menenun waktu dengan sabar
bersama rekah merah kembang rosella
yang ditanamnya. Rumahku di antara dua sungai
tempat para unggas melintas
meninggalkan senja.

Pintu-pintu dan jendelaku begitu bersahaja
lumut dan jamur tumbuh seikhlas senyummu.
Kutulis puisi tentangnya
dengan bahasa yang masih lugu dan belia
seperti ketika aku mengenalmu

pada pandangan pertama.
Di musim kemarau yang terasa panjang,
bunga-bunga akasia berguguran
dicandai udara dan siang yang teramat lelah
dan aku jadi lupa

ibuku telah meninggalkan tungku-tungku dapur
yang dicintainya dengan sepasang tangannya
untuk berdoa. Apabila lampu-lampu malam
dinyalakan, aku belajar kegembiraan
dari dingin dan lembab kesunyian.

(2016)

MIMPI

Mungkin musim tak berarti apa-apa, hanya sekedar
bersembunyi. Unggas-unggas tampak asik
bermain teka-teki dan nasib
di bawah bayang-bayang senjahari.

Aku tak sanggup memikirkan-Mu, Tuhan,
ketika rasa di dalam hati jadi begitu asing
seperti kenanganku tentang bunga-bunga putih
albasia di belakang rumah yang tak ada.

Gerimis baru saja pergi, jejak-jejak Ibunda
telah dibawa hujan. Sesekali, memang,
masih kulihat burung-burung di atas pematang
ketika langit yang tampak ragu

kubayangkan sebagai gerbang-gerbang surgawi
yang terlampau jauh bagi para pengkhutbah
di jaman ini. Kegembiraanku yang paling intim
adalah ketika aku tak pernah tahu

doa apa yang harus kugumamkan di dalam kalbu
hari ini dan esok hari. Entah aku khianat atau jujur,
ia yang tak lagi sanggup menangis
dan tak punya kata-kata, adalah ayat-ayatMu

yang paling kudus. Di mana aku harus menemukan,
duh Tuhan, ketulusan paling murni
ketika namaMu telah menjadi alat jual-beli
di pasar-pasar, perang, dan televisi abad ini?

(2016)

HUJAN MARET

Memikirkan betapa lembab senja yang malas bergegas
setelah hujan Maret jadi dingin di kaca, meja,
pintu dan keheningan yang perwira,
aku teringat dirimu dan membayangkan
mesra berbincang. Saling bercerita dan berbagi dusta
tentang apa yang sebenarnya jadi rahasia
ketika waktu dan juga teka-teki di rambutmu

tak pernah tuntas kubaca.
Engkau adalah perempuan yang lahir
dari aroma putik-putik bunga
yang tak sempat disinggahi kupu-kupu. Aku tak peduli
adakah malam bertabur bintang
atau hanya udara dan kesunyian yang melepaskan
pepohonan.

Sejak kukenal keindahanmu yang penuh tanda tanya
aku seperti musim yang terbakar. Sepasang matamu
seperti rimbun fajar yang enggan beranjak.
Oh betapa panjang kesepianku
sebelum aku menemukanmu sebagai kiasan anyelir
dan mawar. Menjelajahi lorong-lorong misteri
yang ingin sekali kukisahkan padamu.

(2016)

TAMBUR

Kenangan adalah ranting
ketika matahari tengah pergi
di antara sulur-sulur liar
yang disiram gerimis.

Di antara bunga-bunga pandan
dan mahoni, ada suatu kali
aku menghitung
mereka yang melintas

di dingin senja
di antara desir angin April
yang terakhir.
Ibuku berkata: ada kekal surga
selain dunia. Tapi aku

tak bisa lagi mengingatnya
kapan ia pertamakali
mengajariku berdoa
bukan dengan lidah

dan kata-kata
yang acapkali berdusta. Aku lupa
di mana kutinggalkan
kegembiraan pertamaku

sebagai seorang lelaki.
Tapi dari sekian alasan
memang hanya satu
yang tak teringkari
bahwa tubuh milik sendiri.

(2016)

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Buku puisinya berjudul Mazmur Musim Sunyi (Kubah Budaya 2013). Saat ini aktif di Komite Sastra Dewan Kesenian Banten (DKB) dan Kubah Budaya.

Advertisements