Cinta-lah Agama dan Mazhabku

Tags

,

Yunus Emre

Puisi Yunus Emre (penyair sufi Anatolia)

Cinta adalah mazhab dan agamaku.
Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,
semua derita menjadi riang.

Ini, Rajaku,
kupersembahkan diriku pada-Mu.
Sejak mula hingga akhirnya
segala harta kekayaanku hanya diri-Mu.

Awal akal dan jiwa ini,
ketika jarak bermula
adalah bersama-Mu.
Engkaulah ujungnya, dan segala diantaranya
Aku hanya bisa maju ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.
Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.
Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.
Pemahaman ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.
Tak bisa lagi kusebut siapapun “engkau”.
Tak bisa kubilang ini hamba dan itu raja.
Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat
alam ini dan alam berikutnya menyatu.
Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal
dan akhir yang tak berujung,
itu hanya siang dan malam bagiku.

Tak bisa lagi aku berduka
atau hatiku bermuram durja,
karena suara kebenaran telah didengar,
dan aku kini dalam pesta pernikahanku.

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,
jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,
dan jika aku kehilangan diriku,
biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

Sang Sahabat menyuruhku kemari.
Pergi dan lihatlah dunia, katanya.
Aku telah datang dan menyaksikan
alangkah indahnya ia ditata.
Tapi mereka yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

Dia katakan pada para hamba-Nya,
Esok kan Kuberi kalian surga.
Esok yang itu adalah hari-ini ku.

Siapa lagi yang mengerti kebenaran dan penderitaan ini?
Dan andai pun terpahami,
itu takkan terkatakan.
Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,
harta yang dirahasiakan.
Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.
Tindakanku tak lagi jadi milikku.

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu
melupakan dirinya.
Dia sebut setiap kata bagi-Mu.
Engkaulah yang menjadikannya bicara.

Akasia Sulaiman Djaya

Tags

, , , , ,

Majalah Jawara Nomor 4 2016

Empat Puisi Majalah Jawara No. 4 2016 –

AKASIA

Ada suatu ketika ibuku menenun waktu dengan sabar
bersama rekah merah kembang rosella
yang ditanamnya. Rumahku di antara dua sungai
tempat para unggas melintas
meninggalkan senja.

Pintu-pintu dan jendelaku begitu bersahaja
lumut dan jamur tumbuh seikhlas senyummu.
Kutulis puisi tentangnya
dengan bahasa yang masih lugu dan belia
seperti ketika aku mengenalmu

pada pandangan pertama.
Di musim kemarau yang terasa panjang,
bunga-bunga akasia berguguran
dicandai udara dan siang yang teramat lelah
dan aku jadi lupa

ibuku telah meninggalkan tungku-tungku dapur
yang dicintainya dengan sepasang tangannya
untuk berdoa. Apabila lampu-lampu malam
dinyalakan, aku belajar kegembiraan
dari dingin dan lembab kesunyian.

(2016)

MIMPI

Mungkin musim tak berarti apa-apa, hanya sekedar
bersembunyi. Unggas-unggas tampak asik
bermain teka-teki dan nasib
di bawah bayang-bayang senjahari.

Aku tak sanggup memikirkan-Mu, Tuhan,
ketika rasa di dalam hati jadi begitu asing
seperti kenanganku tentang bunga-bunga putih
albasia di belakang rumah yang tak ada.

Gerimis baru saja pergi, jejak-jejak Ibunda
telah dibawa hujan. Sesekali, memang,
masih kulihat burung-burung di atas pematang
ketika langit yang tampak ragu

kubayangkan sebagai gerbang-gerbang surgawi
yang terlampau jauh bagi para pengkhutbah
di jaman ini. Kegembiraanku yang paling intim
adalah ketika aku tak pernah tahu

doa apa yang harus kugumamkan di dalam kalbu
hari ini dan esok hari. Entah aku khianat atau jujur,
ia yang tak lagi sanggup menangis
dan tak punya kata-kata, adalah ayat-ayatMu

yang paling kudus. Di mana aku harus menemukan,
duh Tuhan, ketulusan paling murni
ketika namaMu telah menjadi alat jual-beli
di pasar-pasar, perang, dan televisi abad ini?

(2016)

HUJAN MARET

Memikirkan betapa lembab senja yang malas bergegas
setelah hujan Maret jadi dingin di kaca, meja,
pintu dan keheningan yang perwira,
aku teringat dirimu dan membayangkan
mesra berbincang. Saling bercerita dan berbagi dusta
tentang apa yang sebenarnya jadi rahasia
ketika waktu dan juga teka-teki di rambutmu

tak pernah tuntas kubaca.
Engkau adalah perempuan yang lahir
dari aroma putik-putik bunga
yang tak sempat disinggahi kupu-kupu. Aku tak peduli
adakah malam bertabur bintang
atau hanya udara dan kesunyian yang melepaskan
pepohonan.

Sejak kukenal keindahanmu yang penuh tanda tanya
aku seperti musim yang terbakar. Sepasang matamu
seperti rimbun fajar yang enggan beranjak.
Oh betapa panjang kesepianku
sebelum aku menemukanmu sebagai kiasan anyelir
dan mawar. Menjelajahi lorong-lorong misteri
yang ingin sekali kukisahkan padamu.

(2016)

TAMBUR

Kenangan adalah ranting
ketika matahari tengah pergi
di antara sulur-sulur liar
yang disiram gerimis.

Di antara bunga-bunga pandan
dan mahoni, ada suatu kali
aku menghitung
mereka yang melintas

di dingin senja
di antara desir angin April
yang terakhir.
Ibuku berkata: ada kekal surga
selain dunia. Tapi aku

tak bisa lagi mengingatnya
kapan ia pertamakali
mengajariku berdoa
bukan dengan lidah

dan kata-kata
yang acapkali berdusta. Aku lupa
di mana kutinggalkan
kegembiraan pertamaku

sebagai seorang lelaki.
Tapi dari sekian alasan
memang hanya satu
yang tak teringkari
bahwa tubuh milik sendiri.

(2016)

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten 1 Januari 1978. Buku puisinya berjudul Mazmur Musim Sunyi (Kubah Budaya 2013). Saat ini aktif di Komite Sastra Dewan Kesenian Banten (DKB) dan Kubah Budaya.

Dari Miguel Cervantes Hingga Michel Foucault

Tags

, , ,

Natalia Poklonskaya and Sulaiman Djaya Vogue Magazine

oleh Sulaiman Djaya (2004)

Karya sastra merupakan kawan untuk berpikir, tentu dengan cara-nya sendiri, seringkali melahirkan sebuah wawasan dan pandangan alternatif yang tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Bila kita membaca karya-karya sastra yang memiliki kualitas intelektual yang tinggi, tentu di sana kita seperti memasuki dunia dan tak jarang sebuah perpustakaan. Cervantes adalah salah-satu penulis yang mampu melakukan hal itu, seperti ketika ia mengekspolorasi kegilaan lewat novel-nya yang berjudul Don Quixote.

Dan rupa-rupanya, kegilaan dan sains pernah saling mencederai, dan ada sebuah jaman ketika tubuh yang tidak terkontrol dinamakan sebagai kegilaan. Nama yang sama bagi kemelimpahan imajinasi. Kegilaan ini juga menghiasi filsafat dan dunia kepenulisan.

Eksplorasi kegilaan bisa dikatakan sudah sangat tua dalam dunia kepenulisan dan pemikiran. Penulis-penulis seperti Erasmus, Shakespeare, Marquis de Sade, dan Cervantes adalah beberapa dari sekian banyak penulis yang mengeskplorasi kegilaan dengan intens dan maksimal yang dituangkan baik melalui traktat pemikiran maupun melalui karya-karya kesusasteraan. Tema kegilaan ini pun menjadi proyek super serius filsafatnya Michel Foucault. Menurutnya yang mendefinisikan kegilaan itu sendiri adalah sebuah kegilaan dalam artiannya yang lain. Foucault menyitir kata-kata Dostoievsky: “Bukan dengan mengurung tetangganya maka orang akan menjadi yakin dengan kegilaannya sendiri”.

Sementara itu, kegilaan dalam Don Quixote–nya Cervantes adalah kemelimpahan imajinasi. Cervantes sendiri meminjam kegilaan Don Quixote untuk mengolok-ngolok kegilaan lainnya, yang dalam hal ini salah satu contohnya adalah heroisme. Turunan heroisme ini bisa juga dilihat dalam pembunuhan sesama manusia yang dimotivasi klaim manipulatif yang membajak atau mengatasnamakan agama.

Dapatlah dibandingkan, bila kegilaan dalam karya-karya Shakespeare berujung pada kematian, kegilaan Don Quixote dipicu dan dipacu oleh nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang dipercayainya yang berawal dari buku-buku tebal yang dibacanya. Secara metaforis dan alegoris, buku-buku bisa berarti doktrin tradisi atau pun nilai-nilai yang ditanamkan masyarakat pada individu.

Di sisi lain, menurut Foucault, kegilaan dalam Don Quixote-nya Cervantes adalah imajinasi-imajinasi yang dikontrol oleh praduga-praduga dan kepuasan-kepuasan dengan diri sendiri dalam dunia khayalan. Jika penelitian arkeologis dan genealogis Foucault benar, kegilaan dan orang-orang gila pada awalnya tidak diklinikkan atau dipasung. Menurutnya orang-orang di jaman renaissans lebih ramah memperlakukan orang-orang gila dengan cara menaikkan mereka ke atas kapal dan menyerahkannya kepada para pelaut. Itu dilakukan karena menurut orang-orang renaissans kebodohan dan laut memiliki persamaan. Di jaman renaissans kegilaan begitu riang dan bahtera kebodohan mengarungi lautan dan melintasi kanal-kanal Eropa.

Sementara itu dalam khasanah eksistensialisme, kegilaan adalah ketegangan individu dengan masyarakat dan dunia objektifnya seperti terasa dalam pemikiran dan tulisan-tulisan Kierkegaard, Camus, dan Sartre. Dan di tangan Freud ketegangan ini mendapatkan pesona ilmiahnya. Kepatuhan individu pada tradisi dan etik-masyarakat (super ego) meniscayakan konsekuensi untuk menekan (menyensor) hasrat-hasrat bawah-sadar (id)-nya yang mengakibatkan neurosis alias “gangguan mental dan kejiwaan” pada tingkatan psikis.

Lebih lanjut menurut Freud, apa yang kita sebut rasionalitas dan peradaban itu sendiri adalah kumpulan sublimasi-sublimasi yang isinya adalah orang-orang hipokrit yang menderita. Penderitaan mereka yang paling dalam adalah apa yang disembunyikan dan tak dikatakan mereka. Dan kesepiannya yang paling menyakitkan adalah keinginan-keinginan mereka yang disumbat (disensor).

Sumbangan ilmiah Freud itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari jasa Nietzsche sebagai penemu pertama psikologi alam bawah sadar dan lorong-lorong gelap manusia yang selama ini mengenakan topeng rasionalitas. Dan pada Max Weber sumbangan Nietzsche tersebut menjadi teori tindakan: tidak semua pilihan dan tindakan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional, material, dan instrumental. Seringkali sebuah tindakan dan pilihan dilakukan karena dorongan emosi dan kebodohan yang spontan.

Dan bila kita kembali kepada cara pandang Nietzschean, rasionalitas seringkali lebih merupakan kedok atau bentuk superfisial dari kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Lihat saja ulah George Walker Bush yang serampangan mengumandangkan perang terhadap setiap pemimpin negara lain yang tak disukainya. Di sini kita semua tahu kekuasaan memiliki kegilaannya sendiri seperti telah dibuktikan oleh sejarah dalam wujud diktatorisme dan totalitarianisme dalam sejarah kelam abad modern. Dan rasionalitas itu sendiri bila kita setuju dengan Hannah Arendt seringkali merupakan mesin pembunuh yang paling efektif dan sistematis sebagaimana telah terjadi di jaman modern dalam wujud genocide alias pembunuhan massal yang dimungkinkan oleh kepatuhan birokratis Eichmann si perancang gas demi melayani keinginan tiranis-nya Hitler.

Dalam Don Quixote-nya Cervantes, kegilaan adalah ketakterwadahan kemelimpahan subjektivitas individu dalam ruang sosial yang penuh larangan dan patokan, pembatasan dan moralitas. Sementara di sisi lain secara ironis ada banyak kegilaan yang menggunakan agama dan topeng-topeng kebajikan seperti disatirkan dan disiratkan dengan baik oleh The Name of the Rose-nya Umberto Eco. Dan rasionalitas-nya adalah kata lain “pelupaan”.

Akhirnya dari segi pemikiran seperti yang dipaparkan Milan Kundera dalam The Art of Novel, Miguel de Cervantes adalah penemu dunia modern yang dilupakan oleh para pemikir sekaliber Edmund Husserl dan Martin Heidegger dalam telisik mereka tentang dunia modern.

Bila Descartes melulu berbicara tentang keniscayaan rasionalitas, Cervantes menemukan ambiguitas dan tawa-nya. Cervantes pula yang telah menyadari “pelupaan atas mengada” manusia, bukan hanya Heidegger. Manusia yang dalam pandangan Descartes merupakan “tuan dan pemilik alam”, kini tak lebih alat kekuasaan belaka. Dan rasionalitas yang digaungkan Descartes ternyata telah menjelma “the iron cage” bagi manusia itu sendiri, demikian tulis Kundera.

Cervantes telah menemukan kebodohan dan kegilaan manusia di tengah klaim-klaim rasionalitas-nya. Dan hal tersebut sama-sama tak terhindarkan dan sama-sama nyatanya dalam kehidupan dan keseharian –meski seringkali dilupakan.