Dari Miguel Cervantes Hingga Michel Foucault

Tags

, , ,

Natalia Poklonskaya and Sulaiman Djaya Vogue Magazine

oleh Sulaiman Djaya (2004)

Karya sastra merupakan kawan untuk berpikir, tentu dengan cara-nya sendiri, seringkali melahirkan sebuah wawasan dan pandangan alternatif yang tidak dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Bila kita membaca karya-karya sastra yang memiliki kualitas intelektual yang tinggi, tentu di sana kita seperti memasuki dunia dan tak jarang sebuah perpustakaan. Cervantes adalah salah-satu penulis yang mampu melakukan hal itu, seperti ketika ia mengekspolorasi kegilaan lewat novel-nya yang berjudul Don Quixote.

Dan rupa-rupanya, kegilaan dan sains pernah saling mencederai, dan ada sebuah jaman ketika tubuh yang tidak terkontrol dinamakan sebagai kegilaan. Nama yang sama bagi kemelimpahan imajinasi. Kegilaan ini juga menghiasi filsafat dan dunia kepenulisan.

Eksplorasi kegilaan bisa dikatakan sudah sangat tua dalam dunia kepenulisan dan pemikiran. Penulis-penulis seperti Erasmus, Shakespeare, Marquis de Sade, dan Cervantes adalah beberapa dari sekian banyak penulis yang mengeskplorasi kegilaan dengan intens dan maksimal yang dituangkan baik melalui traktat pemikiran maupun melalui karya-karya kesusasteraan. Tema kegilaan ini pun menjadi proyek super serius filsafatnya Michel Foucault. Menurutnya yang mendefinisikan kegilaan itu sendiri adalah sebuah kegilaan dalam artiannya yang lain. Foucault menyitir kata-kata Dostoievsky: “Bukan dengan mengurung tetangganya maka orang akan menjadi yakin dengan kegilaannya sendiri”.

Sementara itu, kegilaan dalam Don Quixote–nya Cervantes adalah kemelimpahan imajinasi. Cervantes sendiri meminjam kegilaan Don Quixote untuk mengolok-ngolok kegilaan lainnya, yang dalam hal ini salah satu contohnya adalah heroisme. Turunan heroisme ini bisa juga dilihat dalam pembunuhan sesama manusia yang dimotivasi klaim manipulatif yang membajak atau mengatasnamakan agama.

Dapatlah dibandingkan, bila kegilaan dalam karya-karya Shakespeare berujung pada kematian, kegilaan Don Quixote dipicu dan dipacu oleh nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang dipercayainya yang berawal dari buku-buku tebal yang dibacanya. Secara metaforis dan alegoris, buku-buku bisa berarti doktrin tradisi atau pun nilai-nilai yang ditanamkan masyarakat pada individu.

Di sisi lain, menurut Foucault, kegilaan dalam Don Quixote-nya Cervantes adalah imajinasi-imajinasi yang dikontrol oleh praduga-praduga dan kepuasan-kepuasan dengan diri sendiri dalam dunia khayalan. Jika penelitian arkeologis dan genealogis Foucault benar, kegilaan dan orang-orang gila pada awalnya tidak diklinikkan atau dipasung. Menurutnya orang-orang di jaman renaissans lebih ramah memperlakukan orang-orang gila dengan cara menaikkan mereka ke atas kapal dan menyerahkannya kepada para pelaut. Itu dilakukan karena menurut orang-orang renaissans kebodohan dan laut memiliki persamaan. Di jaman renaissans kegilaan begitu riang dan bahtera kebodohan mengarungi lautan dan melintasi kanal-kanal Eropa.

Sementara itu dalam khasanah eksistensialisme, kegilaan adalah ketegangan individu dengan masyarakat dan dunia objektifnya seperti terasa dalam pemikiran dan tulisan-tulisan Kierkegaard, Camus, dan Sartre. Dan di tangan Freud ketegangan ini mendapatkan pesona ilmiahnya. Kepatuhan individu pada tradisi dan etik-masyarakat (super ego) meniscayakan konsekuensi untuk menekan (menyensor) hasrat-hasrat bawah-sadar (id)-nya yang mengakibatkan neurosis alias “gangguan mental dan kejiwaan” pada tingkatan psikis.

Lebih lanjut menurut Freud, apa yang kita sebut rasionalitas dan peradaban itu sendiri adalah kumpulan sublimasi-sublimasi yang isinya adalah orang-orang hipokrit yang menderita. Penderitaan mereka yang paling dalam adalah apa yang disembunyikan dan tak dikatakan mereka. Dan kesepiannya yang paling menyakitkan adalah keinginan-keinginan mereka yang disumbat (disensor).

Sumbangan ilmiah Freud itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari jasa Nietzsche sebagai penemu pertama psikologi alam bawah sadar dan lorong-lorong gelap manusia yang selama ini mengenakan topeng rasionalitas. Dan pada Max Weber sumbangan Nietzsche tersebut menjadi teori tindakan: tidak semua pilihan dan tindakan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional, material, dan instrumental. Seringkali sebuah tindakan dan pilihan dilakukan karena dorongan emosi dan kebodohan yang spontan.

Dan bila kita kembali kepada cara pandang Nietzschean, rasionalitas seringkali lebih merupakan kedok atau bentuk superfisial dari kehendak untuk berkuasa (Will to Power). Lihat saja ulah George Walker Bush yang serampangan mengumandangkan perang terhadap setiap pemimpin negara lain yang tak disukainya. Di sini kita semua tahu kekuasaan memiliki kegilaannya sendiri seperti telah dibuktikan oleh sejarah dalam wujud diktatorisme dan totalitarianisme dalam sejarah kelam abad modern. Dan rasionalitas itu sendiri bila kita setuju dengan Hannah Arendt seringkali merupakan mesin pembunuh yang paling efektif dan sistematis sebagaimana telah terjadi di jaman modern dalam wujud genocide alias pembunuhan massal yang dimungkinkan oleh kepatuhan birokratis Eichmann si perancang gas demi melayani keinginan tiranis-nya Hitler.

Dalam Don Quixote-nya Cervantes, kegilaan adalah ketakterwadahan kemelimpahan subjektivitas individu dalam ruang sosial yang penuh larangan dan patokan, pembatasan dan moralitas. Sementara di sisi lain secara ironis ada banyak kegilaan yang menggunakan agama dan topeng-topeng kebajikan seperti disatirkan dan disiratkan dengan baik oleh The Name of the Rose-nya Umberto Eco. Dan rasionalitas-nya adalah kata lain “pelupaan”.

Akhirnya dari segi pemikiran seperti yang dipaparkan Milan Kundera dalam The Art of Novel, Miguel de Cervantes adalah penemu dunia modern yang dilupakan oleh para pemikir sekaliber Edmund Husserl dan Martin Heidegger dalam telisik mereka tentang dunia modern.

Bila Descartes melulu berbicara tentang keniscayaan rasionalitas, Cervantes menemukan ambiguitas dan tawa-nya. Cervantes pula yang telah menyadari “pelupaan atas mengada” manusia, bukan hanya Heidegger. Manusia yang dalam pandangan Descartes merupakan “tuan dan pemilik alam”, kini tak lebih alat kekuasaan belaka. Dan rasionalitas yang digaungkan Descartes ternyata telah menjelma “the iron cage” bagi manusia itu sendiri, demikian tulis Kundera.

Cervantes telah menemukan kebodohan dan kegilaan manusia di tengah klaim-klaim rasionalitas-nya. Dan hal tersebut sama-sama tak terhindarkan dan sama-sama nyatanya dalam kehidupan dan keseharian –meski seringkali dilupakan.

Advertisements

Fabel & Animasi

Tags

, ,

Puisi Sulaiman Djaya 2

Puisi-puisi Sulaiman Djaya

FABEL

Tanganku saling bermain dengan kata
dan kalimat. Menggambar rusa dan senja,
sama-sama melukis bahasa
jadi sajak, menziarahi dunia.

Orang-orang telah mengganti kesepiannya
dengan dunia-dunia di layar kaca
dan puisi pun tak ada
bagi mereka yang kehilangan bahasa.

Puisi hanya bisa ditulis
ketika kau ikhlas duduk sendiri.
Selagi bahasa belum mati
oleh iklan-iklan komoditas abad ini

yang membuatmu tak lagi mengenali
beda kata dan kalimat
saat kau membaca dan berbicara
ketika sedih atau gembira.

Aku menulis karena aku ingin menziarahi
dunia-dunia yang tersembunyi
dalam bahasa dan hidup sehari-hari
yang juga kau akrabi.

Kau tentu tahu, seringkali rasa asing
tak bisa dibedakan dari sepi
ketika kau sibuk memilih
dunia yang ingin sekali kau tinggali.

Tetapi aku berbagi sunyi dengan kata-kata
ketika bernyanyi dan menulis puisi.
Membayangkan sebuah dunia
dengan rumah-rumah purba

dan kau tak perlu menyeru kata
ketika menulis sajak
karena puisi bukan mantra sihir
atau jurus sulap dunia jaman mesin.

(2015)

ANIMASI

Februari datang seperti bahasa
dan detak jam
telah selesai menghitung hujan
seperti cinta pertama

dalam sebuah sajak.
Di bawah mendung aku memandang
para capung dan kupu-kupu
ketika waktu tidur

di dalam sepasang matamu.
Waktu, yang tanpa kau-tahu,
merubah warna jendela kaca
dan menyimpan ingatan

di sebuah stanza
yang pernah kau-baca.
Tetapi waktu bukan tahun-tahun
yang menggugurkan daun.

Waktu adalah cahaya kunang-kunang
dan sesuatu, entah apa itu,
yang tak pernah dikatakan
gugusan rambutmu.

Aku pun seringkali
terlambat membuka mata
untuk mengenali sebuah dunia
yang ditinggalkan dan yang datang.

Waktu, barangkali, seperti para capung
yang bergetar dan mengambang
di antara remang cahaya
dan dingin udara Februari pertama.

(2015)

Sumber: Harian Indo Pos, 26 Februari 2016

Posisi Sosial Politik Sastra

Tags

, ,

Puisi Sungai Sulaiman Djaya

oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 17 Oktober 2015)

Pentingnya dunia intelektualisme dan kepenulisan (yang tentu saja di dalamnya adalah sastra), sembari meneropong dan melihatnya dalam keterkaitannya dengan aspek tradisi dan institusi, akan mengingatkan kita pada kerja yang telah dilakukan Rabindranath Tagore yang gigih hingga akhir hayatnya memperjuangkan tradisi keaksaraan, sampai-sampai ia mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Santiniketan meski ketika itu ia dalam kesulitan finansial, dan juga akan mengingatkan kita pada Amartya Sen, yang seperti halnya Rabindranath Tagore, juga memandang dunia pendidikan dan keaksaraan sebagai fondasi utama kekuatan dan kemajuan sebuah masyarakat atau pun bangsa, sebagaimana yang ia sampaikan dalam ceramahnya di Southeast Asian Studies di Singapura di pada tahun 1999 (Sen, Demokrasi Bisa Memberantas Kemiskinan, Mizan 2000).

Dua tokoh pemikir tersebut sama-sama melihat kerja intelektualisme dan kepenulisan atau keaksaraan, yang tentu saja termasuk di dalamnya kesusastraan, akan sangat terkait dengan upaya pembangunan tradisi dan institusi itu sendiri sebagai penjaga dan penyelenggaranya seperti yang juga pernah dilakukan oleh Sutan Takdir Alisyahbana.

Bila kita tambahkan, salah-satu wujud penciptaan tradisi dan institusi tersebut adalah juga keberlangsungan komunitas yang konsen dalam bidang kepenulisan dan ihktiar intelektualisme. Kita semua pun sudah sangat maphum, tradisi membaca dan kerja kepenulisan, juga penerjemahan tentu saja, akan menyumbang pada peningkatan kapasitas kemampuan masyarakat dalam memajukan diri mereka, terutama dalam kontestasi global saat ini, yang mengandaikan kecakapan dan kekayaan pengetahuan untuk menyikapi dan menghadapinya.

Kita pun sama-sama tahu juga bahwa buku dan kata, seperti yang dikiaskan dengan indah dan jernih oleh Vaclav Havel melalui esainya yang berjudul Ein Wort uber das Wort, bahkan bisa merubah dan membalikkan sejarah ummat manusia, semisal kata demokrasi yang telah meruntuhkan kekuasaan politik otoriter yang dirasa lebih banyak memberikan ketakbebasan dan kurang menyumbang produktivitas hidup manusia yang meniscayakan kebebasan dan terbukanya ruang-ruang publik yang tidak lagi berada dalam tekanan dan kontrol kekuasaan politik yang berlebihan dan menindas masyarakat (Vaclav Havel, Menata Negeri dari Kehancuran, YOI 1995).

Karena itulah kita sadar bahwa persoalan membangun literasi bisa dibilang kompleks, ia memang mengandaikan hadirnya institusi-institusi pendukung yang akan menjaga kelangsungan kerja-kerja kepenulisan dan keaksaraan, termasuk menciptakan pasar dan menyelaraskan kepentingan antara intelektualisme dan sumbangannya bagi pencerahan dan peningkatan kualitas hidup yang merupakan keinginan dan aspirasi banyak orang. Sementara itu, di luar persoalan membangun institusi dan tradisi, persoalan kepenulisan seringkali lahir dari individu-individu yang tekun dan memang dengan sungguh-sungguh mencintai kepenulisan dan kerja-kerja intelektual, sehingga seberapa pun banyak buku-buku panduan dan wawasan menulis, buku-buku hanya menjadi teori yang tidak produktif bila setiap pembacanya tidak langsung memulai dan melakukannya dengan langsung mempraktekkan kerja-kerja kepenulisan dan keaksaraan yang dimaksud. Juga sebaliknya, buku-buku teori dan panduan menjadi berguna bagi mereka-mereka yang membutuhkan bimbingan dan wawasan tentang apa dan bagaimana menulis yang baik dan layak mendapatkan sambutan publik alias pasar.

Di sini, kita tentu dapat bercermin dari Restorasi Meiji di Jepang 1868-1911yang memprioritaskan anggaran dan prioritas pendidikan dan keaksaraan hingga mencapai angka 43% (Amartya Sen, Demokrasi Bisa Memberantas Kemiskinan, Mizan 2000). Itu karena para penentu kebijakan dan para founding fathers di Jepang ketika itu sepenuhnya sadar bahwa sebelum menggalakan industrialisasi dan pembangunan ekonomi lainnya, yang pertama-tama harus dilakukan adalah mempersiapkan kemampuan, skill, dan pengetahuan manusianya supaya siap bekerja dalam bidang-bidang kerja modern hingga dapat memberdayakan bangsa sendiri secara maksimal.

Dengan menggalakkan masyarakat membaca, Jepang sepenuhnya sadar bahwa etos yang dapat disumbangkan kerja keaksaraan salah-satunya adalah menanamkan spirit kerja keras dan mencintai ilmu pengetahuan dalam dan pada masyarakat yang akan memperkaya kecakapan dan kapasitas kemampuan mereka, yang pada akhirnya dapat membantu peningkatan kehidupan mereka, terlebih dalam konteks persaingan global saat ini, sebuah era yang lazim disebut sebagai era kapitalisme lanjut alias Late Capitalism yang mengandaikan kemampuan adaptasi setiap orang akan sangat tergantung atau ditentukan oleh kecakapan diri dan kekayaan pengetahuan dan informasi yang dimiliki masing-masing setiap orang, yang dalam konteks ini, penulis teringat filsafat sosialnya Hegel yang mengatakan bahwa pilihan-pilihan dan kebebasan masyarakat sesungguhnya terbentuk dalam negosiasi-negosiasi yang simultan dengan kekuatan eksternal.

Suatu pilihan yang diambil oleh seseorang, contohnya, terkait dengan akses dan resource sejauh yang didapat dan diketahuinya, dan konsekuensinya, kemerdekaan justru diukur oleh derajat kemampuan seseorang itu sendiri dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan eskternal (Giovanna Borradori, Filsafat di Jaman Teror, Penerbit Kompas 2005). Dengan demikian, kerja-kerja intelektual dan kebudayaan secara umum mengandaikan ketersediaan sarana dan prasarana alias mengandaikan ketersediaan infrastruktur yang akan mampu membiayainya dan yang akan juga menciptakan pasar-nya.

PENTINGNYA PENERJEMAHAN
Kemudian, sedikit mencoba berbicara dunia penerjemahan, terutama soal penerjemahan buku-buku kesusasteraan, haruslah diakui masih adanya kesenjangan kultural dan kapital, ketika kita selama ini menerjemahkan banyak karya-karya dari negara-negara lain, sementara karya-karya kita masih sangat sedikit yang diterjemahkan oleh mereka. Memang benar bahwa dengan menerjemahkan banyak literatur dan buku-buku dari bahasa asing, setidak-tidaknya kita mendapatkan banyak khasanah dan wawasan kultural yang akan berguna bagi kita, tetapi bukan berarti kita juga tidak mesti berusaha sungguh-sungguh untuk memperkenalkan khasanah kultural kita sendiri kepada publik dunia.

Rasanya kita pun sama-sama tahu, selama sejarah kepenulisan kebudayaan dan kesusasteraan kita, tak satu pun penulis kita yang pernah dianugerahi penghargaan Nobel, padahal satu dua tiga penulis kita sebenarnya sudah sangat layak untuk menerima anugerah tersebut. Konon salah-satu faktornya adalah karena masih minim-nya penerjemahan buku-buku kita atau khasanah kultural-kesusasteraan bangsa kita ke bahasa asing, atau katakanlah ke bahasa Ingris, sehingga banyak buku-buku yang dihasilkan penulis-penulis kita tidak diketahui alias tidak dibaca oleh publik dunia.

Atas dasar pandangan tersebutlah, kita tentu tak hanya memahami kerja-kerja intelektual dan penerjemahan sebagai kerja-kerja penngalih-bahasaan khasanah kultural dan buku-buku asing ke bahasa kita, tetapi juga sebaliknya, adalah juga kerja-kerja penerjemahan khasanah kultural dan buku-buku yang dihasilkan para penulis kita ke bahasa asing. Artinya, sudah merupakan kewajaran ketika kita nantinya memiliki para penerjemah yang handal, di mana mereka tak hanya menerjemahkan karya-karya para penulis asing ke dalam bahasa kita, tetapi mereka juga mestilah menerjemahkan karya-karya dari negeri sendiri ke bahasa asing, agar kita dapat mengkomunikasikan karya-karya kepenulisan kita kepada dunia sembari kita saling belajar dari khasanah asing dengan menerjemahkan karya-karya mereka. Dan itulah salah-satu fungsi sosial-politik kerja intelektual, yaitu mengangkat dan memperkenalkan kebudayaan dan karya-karya intelektual bangsa kita kepada publik dunia.