Tafakur Ramadan oleh Sulaiman Djaya (2017)

Tags

,

Tuhan yang tak punya nama
Adakah jendela malam
Bagi sujudku yang bimbang?
Betapa kini jauh nubuat Rasul-Mu
Di jaman iklan dan hiruk-pikuk

Para penjual agama
Di bursa-bursa saham.
Mesjid-mesjdiMu hanya dinding dan kaca
Jaman komoditas.
Di mana gerangan Hira

Yang dulu jadi tempat
Munjat rindu Muhammad-Mu?
Kitab suci-Mu telah berubah
Jadi alat-alat pertukaran
Di kanal-kanal layar kaca.

Tuhan yang tak punya nama
Adakah malam yang lebih sunyi
Bagi tafakurku yang kadang hampa
Oleh kata yang membuatku
Senantiasa bertanya?

Tuhan yang tak punya nama
Aku tak paham kenapa manusia
Menggambar-Mu sesuai selera mereka?
Firman-firman dibaca dan dikumandangkan
Hanya untuk menjadi iklan dan slogan.

Mereka bangun kuil-kuil pemujaan
Hanya untuk melupakan
Bahwa iman terkadang ingin bertanya
Kenapa yang kudus tak mudah
Dikhutbahkan?

Tuhan yang tak punya nama
Mesjid-Mu, Sinagoga-Mu, gereja-Mu
Kini dihuni para pialang saham
Yang memakai jubah
Kopiah dan surban.

Ayat-ayat-Mu dijadikan senjata
Untuk menjagal para pecinta.
Aku tak paham
Kenapa manusia ingin serupa
Engkau yang tak terjangkau?

(2017)

Pematang Ingatan

Tags

,

pematang-ingatan-sulaiman-djaya-2008

Jalan ke arah batu cadas seperti baru saja kukenal
meski telah ribuan senja mengganti warna wajahnya.
Masih kucium tahun-tahun yang berlalu
ketika dari keheningan air udara berhembus.

Ada bunga-bunga yang terlepas
ketika cuaca ingin istirahat. Tak kusangka
matahari yang sama telah merenggut
milyaran usia dan melahirkan kanak-kanak baru.

Di suatu waktu ada seorang bocah duduk termenung
ketika gerimis tersangkut di rimbun bambu.
Setiap kepak unggas dan mereka yang beterbangan
Dipahaminya sebagai kegembiraan yang bosan.

(Puisi dan gambar oleh Sulaiman Djaya)

Tiga Puisi dari Eropa

Tags

, ,

Puisi November Sulaiman Djaya

DI DALAM TELUR (Puisi Gunter Grass)

Kita hidup di dalam telur.
Sebelah dalam dari kulitnya
kita coreti dengan gambar-gambar cabul
dan nama depan musuh-musuh kita.

Kita sedang dikeram.
Siapa pun yang mengeram kita,
pinsil kita pun dikeram olehnya.
Nanti kalau suatu hari kita menetas,
kita langsung akan mereka
gambaran si pengeram.

Kita menduga, kita sedang dikeram.
Kita membayangkan seekor unggas yang ramah
dan menulis karangan sekolah
tentang warna dan jenis
ayam betina yang sedang mengeram kita.

Kapan kita akan menetas?
Nabi-nabi kita dalam telur
bertengkar dengan mendapat upah yang sedangan
tentang lamanya waktu pengeraman.
Mereka menduga adanya satu hari X.

Karena bosan dan karena keperluan yang sungguh
kita nemukan kotak pengeraman.

Kita berusaha sungguh untuk generasi penerus dalam telur.
Dengan senang hati kita akan nawarkan paten kita itu
kepada dia yang ngawasi kita.

Tapi kita miliki atap di atas kepala.
Kita –anak unggas yang pikun,
embrio-embrio dengan pengetahuan bahasa
yang berbicara sepanjang hari
dan bahkan bicarakan mimpi-mimpinya.

Dan seandainya kita tidak dikeram?
Seandainya kulit ini takkan pecah?
Seandainya horison kita hanya horison
coretan kita dan keadaan itu tetap sama?

Kita mengharap bahwa kita dikeram.
Walaupun kita bicara tentang pengeraman itu saja,
toh patut ditakuti, bahwa seorang
di luar kulit telur kita merasa lapar,
memasukkan kita dalam panci dan menambah garam.-
Apa yang lalu akan kita lakukan, saudara-saudara dalam telur?

Sumber: “Kau Datang Padaku (Antologi PUISI JERMAN Abad Ke-20)”

POHON RINDANG (Puisi Seamus Heaney)

Dia takkan pernah bangkit lagi tetapi dia siap.
Mengawali serupa dicerminkan pagi,
Dia menatap ke luar jendela besar, ajaib
Tak peduli hari cerah atau mendung.

Mengintai dari lantai atas ke seluruh negeri.
Terutama truk-truk susu, terutama asap, gumpalannya, pohon
Di kelembaban yang meruah di atas pagar-pagar tanaman
Dia melakukannya sendiri, dia seperti prajurit jaga

Terlupakan dan tak bisa mengingat
Alasan-alasan dan sebab-sebab mengapa dia pergi dari kekayaan lingkungannya,
Beranjak mengendurkan posisi penjagaannya,
Terlepas bagai debur gelombang.

Sejalan kepalanya terang oleh cahaya, tangan kurus keringnya
Meraba-raba dengan putus asa dan mendapati bayangan dahan
Pohon rindang dalam genggamannya, yang mengukuhkannya.
Sekarang dia telah menemukan yang dirabanya dia dapat memijak buminya

Atau memiliki tongkat kayu seperti dahan perak dan
Melangkah lagi di antara kami: juri yang menghargai
(Telah menghempaskan lelaki yang lebih baik terlindung
Dari pagar tanaman)
Tuhan mungkin berpikiran sama, mengingat Adam.

PADA SEPOI MALAM (Puisi T.S. Eliot)

Pukul dua belas, tepat.
Sepanjang rengkuhan jalan
Bertahan pada sintesa bulan,
Bisik mantra-mantra bulan
Mengabur lantai kenangan
Dan segala relasi jelas kini,
Segala memisah, mempertegas diri,
Setiap lelampu jalan yang kulintas
Berdentum bagai tambur kematian,
Tengah malam menyentak lepas kenangan
Bagai lelaki marah mencabut kering geranium.

30 menit dari pukul satu,
Lelampu jalan memercik
Lelampu jalan berkata,
“Beri hormat itu perempuan
Yang menggamangkanmu ke sinar pintu itu
pintu yang membuka padanya seperti seringai.
Kau lihat, ujung gaunnya
koyak berlumur pasir
dan kau lihat sudut matanya
mengerling bagai lencana yang dipakai miring.

Kenangan melambung, tinggi dan kering
Kerumun dari yang terpintal-terjalin
Jalinan cecabang di senarai pantai
Terasa hambar dan berkilau
Seperti yang dunia serahkan
Rahasia tulang kerangka
putih dan keras
Selingkar pegas di halaman pabrik
Karat yang merekat, tak lagi ada kuat
Keras melengkung, siap didentang-dentang.

Aku melihat ada kosong di lorong mata bocah itu.
Aku sudah melihat mata di jalan itu
Menatap tajam menembus benderang jendela,
Dan seekor ketam, satu sore, di genang kolam,
Seekor ketam tua, kepah di punggungnya,
Mencengkeram ujung tongkat yang kugenggam.

Pukul tiga, tiga puluh menit,
Lelampu memercik,
Lelampu memberengut dalam gelap.

Lelampu yang bergumam:
“Beri hormat bulan itu,
La lune ne garde aucune rancune,
Bulan mengerdip, matanya redup,
Bulan tersenyum, ke pencil sudut-sudut.
Bulan mengelus lembut rambut-rambut rumput.
Bulan yang telah kehilangan kenangan.
Parut cacar mengacau wajah bulan,
Tangan bulan menata mawar kertas,
yang menebar aroma debu dan Cologne apak,
Bulan sendiri, dengan seluruh aroma malam
Yang saling bersilang di sisi seberang pikir bulan.
Kenangan pun tiba-tiba tiba
Dari Geranium yang kering di teduh matahari,
Dan menabur di celah karang,
Aroma chesnut menebar di jalan-jalan
Dan aroma perempuan di kedap ruang
Dan sengak rokok di koridor
Dan uap koktail di bar.”

Lelampu berkata,
“Pukul empat,
Inilah nomor pintu itu,
Kenangan!
Engkau punya kuncinya,
Lampu kecil menebar lingkar sinar di tangga,
Menaik.
Ranjang membuka; sikat gigi menggantung di dinding,
Lepaskan sepatu di depan pintu, tidurlah,
bersiap untuk hidup esok lagi.”

Hunus terakhir sang pisau.